Dakwah dalam Komunikasi Antar
Etnik,
Ras
dan Bangsa
Diajukan Kepada
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Dalam Memenuhi
Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural
Oleh:
Muhammad Syaiful Faiz
B01219037
PROGRAM
STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2021
PENDAHULUAN
Agama Islam mendasarkan hubungan manusia dengan lingkungan alamnya pada
kasih sayang yang pantas. Artinya, Islam memperlakukan manusia
sebagai bagian dari penghuni bumi dan menghubungkannya secara baik dengan bumi
dan penghuni lainnya. Keanekaragaman makhluk yang ada di bumi ini adalah manifestasi
kemahakuasaan Tuhan, dan bukan suatu alasan untuk menguntungkan satu makhluk
dengan merugikan makhluk lainnya. Demikian pula halnya keanekaragaman budaya
manusia merupakan keniscayaan yang tidak dapat dielakkan, namun budaya perlu
dicermati karena tidak sepenuhnya budaya yang berkembang dalam masyarakat baik
dan membawa kemaslahatan bagi manusia meskipun budaya tersebut sudah ada dan
berkembang di tengah-tengah masyarakat seperti kebiasaan pesta dengan minum
minuman keras dan sebagainya.
Membangun sebuah jembatan
antarbudaya (dalam arti ras, kepercayaan, dan sosio-kultural), dengan landasan
persamaan dan persaudaraan saat ini sangat penting. Karena manusia tidak
berdiri sendiri terutama pada kehidupan yang kontemporer dan kompleks seperti
dewasa ini. Hubungan kerja sama dengan sesama manusia untuk menghindari
fanatisme dan etnosentrisme yang berlebihan, sebab kedua hal tersebut dapat
menyebabkan perpecahan di antara manusia[1].
PEMBAHASAN
A. Ragam bentuk
Koamunikasi
Komunikasi
antarbudaya merupakan proses komunikasi diantara dua latar belakang budaya yang
berbeda. Misalnya antara orang Indonesia dengan orang
Malaysia, antara suku sunda dengan suku jawa, antara ras klokasia dengan ras Mongolia. Dalam komunikasi anatarbudaya ini rawan
konflik karena memiliki pengertian atau makna yang berbeda mengenai suatu
perbuatan, seperti bersendawa, dalam budaya tertentu bersendawa merupakan
suatu bentuk pujian terhadap makanan yang enak, namun dalam budaya bangsa lain itu adalah
sebuah ketidak sopanan[2].
Bentuk-bentuk komunikasi dalam konteks ilmu lainnya, yaitu :
1.
Komunikasi politik, proses komunikasi yang dilakukan dalam konteks
perpolitikan
2.
Komunikasi kesehatan, proses komunikasi yang terjadi dalam konteks
paramedic
3.
Komunikasi terapetik, proses komunikasi yang bukan hanya dalam
konteks paramedic saja namun ada pula yang disebut dengan tarapis nonformal
seperti tukang pijit, pengobatan alternatif , perawat dan sebagainya. Jadi
komunikasi terapis adalah komunikasi dalam konteks terapis dan pasiennya.
4.
Komunikasi dakwah, kalau dalam ilmu dakwah dikatakan bahwa
komunikasi adalah bagian dari dakwah, akan tetapi dari perspektif ilmu
komunikasi, dakwah itu adalah salah satu metode komunikasi. Jadi komunikasi
dakwah adalah proses komunikasi dalam usaha menyampaikan pesan atau nilai-nilai
Islam kepada umat manusia
5.
Komunikasi krisis dan bencana, proses komunikasi dalam menghadapi
dan menanggulangi krisis dan bencana
6.
Komunikasi transcendental, bentuk komunikasi yang jarang dipelajari
secara eksplisit baik di buku maupun di
kelas.komunikasi transcendental merupakan proses komunikasi yang terjadi antara
manusia (hamba) dengan Tuhannya. Alur komunikasinya satu arah seperti
sembayang, sholat dan berdo’a. komunikasi ini biasa dikenal sebagai komunikasi
untuk meminta dan memohon.
7.
Komunikasi spiritual, bentuk komunikasi yang jarang dipelajari
secara eksplisit dalam textbook ilmu komunikasi. Komunikasi spiritual merupakan
proses komunikasi yang melibatkan unsur spiritual (rasa). Memiliki alur dua
arah dan juga merupakan proses komunikasi pada tahap yang lebih tinggi, yaitu
untuk mencapa konektifitas yang solid dengan Sang Pencipta dan ciptaannya yang
lain.
8.
Komunikasi spranatura;, komunikasi yang tidak perlu dipelajari
cukup diketahui saja karena merupakan komunikasi yang lebih ke unsur negative.
Seperti seorang dukun yang berkomunikasi dengan makhluk-makhluk astral.
B. Religius Tolerenc
Toleransi adalah kemampuan hidup dengan sesuatu
(termasuk sikap dan situasi orang lain) yang tidak Anda sukai. Anda tidak
menyukainya karena ini berbeda dengan apa yang biasa Anda lakukan, tidak sesuai
dengan nilai yang Anda pegang atau tradisi tempat Anda dibesarkan. Terkadang
Anda harus hidup dengan hal semacam itu agar Anda tidak mengalami kesulitan
atau agar Anda memahami penyebabnya yang membuat orang lain melakukan apa yang
tidak Anda sukai dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dalam situasinya
konflik akan terjadi sewaktu-waktu sehingga pengembangan diri terhambat. Namun,
memberi banyak toleransi tidak kalah berbahayanya. Ini dapat mengakumulasi
ketidakpuasan hingga ke titik tak tertahankan yang dapat menyebabkan gangguan
yang lebih besar. Selain itu, toleransi sebenarnya merupakan langkah parsial pembuktian
dalam hubungannya dengan hidup bersama. Seseorang tidak bisa mentolerir setiap
hari, kecuali sangat sedikit orang. Seseorang mungkin bertoleransi dalam waktu
yang lebih lama daripada yang lain, tetapi selalu ada batasan yang tidak dapat
dilampaui. Tidaklah mudah untuk menetapkan batasan dimana kebebasan dan batasan
manusia harus diakhiri. tetapi pada saat yang sama mereka menjamin penerapannya
atau lebih baik memberikan ruang yang adil bagi individu untuk menggunakan
kebebasan mereka. Tanpa mereka akan ada hukum "survival of the
fittest" Atau, beberapa anggota komunitas atau ras manusia mungkin lebih
mengutamakan kebebasan, sedangkan yang lain hanya memiliki ruang sempit untuk
menjelajah, atau bahkan beberapa individu yang berkuasa mengambil alih ruang
sehingga tidak memberi ruang bagi orang lain.Perkembangan dunia kita tidak
memberi ruang bagi sekelompok orang untuk hidup terpisah-pisah dari orang lain.
Komunitas berkembang menjadi masyarakat majemuk di mana orang-orang hidup dari
berbagai latar belakang, agama, budaya, dan lain-lain. Satu-satunya pilihan
yang kita miliki dalam situasi seperti ini adalah hidup bersama. Ini berarti
bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat ditinggalkan atau diabaikan dalam
menjamin keberadaan masyarakat mana pun. Penggunaan kekuasaan dan paksaan hanya
akan menghancurkan masyarakat. Itu akan menyebabkan dendam dan kebencian yang
membuat bumi tidak menyenangkan untuk ditinggali. Agama harus dihadirkan
sebagai berkah bagi umat manusia karena harus memberikan pedoman hidup dan
cita-cita yang harus diarahkan[3].
C. Keberagamaan suku, agama, ras
dan antar golongan dalam bingkai bhineka tunggal ika
1.
keberagaman dalam masyarakat Indonesia
a.
faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia
keberagaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat yang
terdapat banyak perbedaan dalam berbagai bidang perbedaan tersebut terutama
dalam hal suku bangsa ras agama keyakinan ideologi politik sosial budaya
ekonomi dan jenis kelamin. Keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia
merupakan kekayaan dan keindahan bangsa
b.
Keberagaman suku bangsa dan budaya
keberagaman bangsa Indonesia terutama terbentuk oleh
jumlah suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia sangat banyak dan tersebar
dimana-mana. Setiap suku bangsa mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam
aspek sosial maupun budaya. Menurut penelitian Badan Pusat Statistik yang
dilaksanakan tahun 2010 di Indonesia terdapat 1128 suku bangsa, antar suku
bangsa di Indonesia memiliki berbagai perbedaan dan itulah yang membentuk
keanekaragaman di Indonesia
c.
Keberagaman agama dan kepercayaan
di mana di negara kita Terdapat 6 agama dan kepercayaan
d.
Keberagaman ras
ras adalah warna kulit, ada mongoloid dan Negroid ada
Melanesoid kalau kita kebagian kulit sawo matang.
Dari
disini ada faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia adalah keberagaman
suku bangsa dan budaya ada keberagaman agama dan kepercayaan dan juga
keberagaman ras atau warna kulit.
2.
Arti penting memahami keberagaman dalam bingkai
Bhinneka Tunggal Ika
keberagaman suku bangsa budaya ras agama dan
antargolongan menjadi daya tarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia
kita tidak hanya memiliki keindahan alam tetapi juga keindahan dalam
keberagaman masyarakat Indonesia
3.
Perilaku toleransi terhadap keberagaman suku agama, ras
dan antargolongan
Persatuan dan kesatuan
di sebuah negara yang beragam dapat diciptakan salah satunya dengan perilaku
masyarakat yang menghormati keberagaman bangsa dalam mewujudkan perilaku
toleransi terhadap keberagaman tersebut. Sikap toleransi berarti menahan diri
bersikap sabar membiarkan orang berpendapat lain dan berhati lapang terhadap
orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Toleransi sejati didasarkan sikap hormat
terhadap martabat manusia, hati nurani dan keyakinan serta keikhlasan sesama
apapun agamanya suku, golongan, ideologi atau pandangannya[4]
D. Pluralisme dalam suatu etnis
Menurut Richard E. Parter & Larry A. Samovar mengatakan: bahwa budaya
berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, merasa,
mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa,
persahabatan, kebiasaan makan, praktik komunikasi, tindakan-tindakan sosial,
kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik, dan teknologi, semua itu berdasarkan
pola-pola budaya. Ada orang yang berbicara bahasa Tagalog, memakan ular,
menghindari minuman keras terbuat dari anggur, menguburkan orang-orang yang
mati, berbicara melalui telepon, atau meluncurkan roket ke bulan, ini semua
karena mereka telah dilahirkan atau sekurang-kurangnya dibesarkan dalam suatu
budaya yang mengandung unsur-unsur tersebut. Apa yang orang-orang lakukan,
bagaimana mereka bertindak, bagaimana mereka hidup, bagaimana mereka
berkomunikasi, merupakan respons-respons terhadap dan fungsi-fungsi dari budaya
mereka[5].
Budaya-budaya yang berbeda memiliki
sistem-sistem nilai yang berbeda, dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup
yang berbeda. Problem utamanya adalah bila seseorang cenderung menganggap
budayanya sebagai kemestian, tanpa mempersoalkan lagi (taken for granted), dan
karenanya ia menggunakannya sebagai standar untuk mengukur budaya-budaya lain. Jadi
hakikat pluralis atau keanekaragaman adalah sebagai fitrah (sifat yang melekat
secara alamiah) bagi manusia. Karena Tuhan telah menciptakan manusia dalam
keadaan berbeda-beda. Atau dengan kata lain, bahwa sifat alamiah manusia adalah
berbeda, baik dalam bentuk fisik, pemikiran dan perbuatan. Maka agama dan
budaya manusia tentu juga menjadi berbeda-beda[6].
E. Dakwah Antar Etnik dan Ras
Dakwah
antarbudaya dimaksudkan ialah sesuatu yang menjadi pegangan atau acuan
prediktif kebenaran yang menjadi dasar berpikir dan bertindak merealisasikan bidang
dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya dan keragamannya ketika
berinteraksi dengan mad’u
dalam rentang ruang dan waktu sesuai perkembangan masyarakat.
Mayoritas atau hampir semua manusia menyadari
bahwa keragaman dan perbedaan merupakan sebuah keniscayaan yang harus diterima
dan dihadapi, walaupun terkadang sikap yang kurang tepat terhadap keragaman
yang ada sering menjadi sumber konflik, jika bukan permusuhan dan peperangan. Berhenti pada tampakan keragaman dan perbedaan tertentu membuka
peluang untuk terjadinya ragam konflik kemanusiaan. Oleh karenanya, manusia
dituntut untuk mencari titik-titik tertentu yang memungkinkan adanya titik temu
atau paling tidak kebersamaan, sehingga terbuka peluang untuk tumbuhnya sikap
toleran dalam menyikapi pluralitas.
Moh. Ali Aziz mengatakan: universalitas dakwah
sebenarnya memiliki dua dimensi, yaitu universal dalam arti ia berlaku untuk
setiap tempat tanpa mengenal batas-batas etnis, dan universalitas dalam arti ia
berlaku untuk setiap waktu tanpa adanya pembatasan. Hal ini membawa konsekuensi bahwa ajaran itu bersifat permanen
sampai akhir masa yang akan datang.ix Untuk itu ajaran yang dibawa Nabi
Muhammad SAW bersifat elastis, akomodatif, dan fleksibel sehingga dalam hal-hal
tertentu ia dapat mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi kebutuhan manusia. Dan
karena universalitasnya itu ia menjadi penutup bagi ajaran-ajaran nabi
terdahulu[7].
Karena itu dakwah tidak semata-mata berorientasi pada kesemarakan,
tetapi banyak diarahkan pada pendalaman dan pengembangan wawasan. Hal ini
penting mengingat dalam kehidupan masyarakat majemuk, diperlukan sikap yang
terbuka tetapi tidak larut, diperlukan sikap cosmopolitan tetapi
berkepribadian. Dakwah disamping memiliki kepekaan teologis juga harus memiliki
kepekaan sosial.
Dakwah Islam merupakan ajakan untuk berpikir, berdebat, dan
berargumentasi untuk menilai suatu kasus yang muncul. Dakwah Islam tidak dapat
disikapi dengan keacuhan kecuali oleh orangorang yang sinis dengan penolakan
atau berhati dengki. Hak berpikir merupakan sikap dan milik semua manusia. Tak
satupun orang yang dapat mengingkarinya. Karena apa yang sedang diupayakan
dalam dakwah adalah penilaian, maka dari hakikat sifat penilaian tujuan dakwah
tak lain adalah kepasrahan yang beralasan, bebas dan sadar dari objek dakwah
terhadap kandungan dakwah. Dakwah harus merupakan penjelasan tentang kesadaran,
dimana akal maupun hati tidak saling mengabaikan[8].
F. Moderasi Beragama
Indonesia memiliki beragam ras, etnik dan
agama, Masyarakat menjungjung tinggi nilai–nilai persatuan. Contohnya seperti
moderasi beragama, indonesia dengan acuan geografi dan kemajukan manusia di
bumi pertiwi dengan berbagai perbedaan dengan dilandasi toleransi menciptakan
harmoni yang sepadu, sejalan, seirama dan ber-iringan. Dengan adanya keragaman
indonesia mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lain.
Dalam konteks agama islam moderasi beragama
berarti mengajarkan agama bukan hanya untuk membentuk pribadi, individu yang
sholeh, tetapi sebagai landasan atau instrumen untuk menghargai agama dan umat beragama
lain. Dalam jaman modern saat ini kita perlu memahami sikap moderasi beragama,
sebab jika kita memahami moderasi beragama ini kita akan menjadi volume budaya
kampung bagi kita untuk menghadapi zaman sekarang yang sudah maraknya
intoleransi dan fanatisme yang berlebihan yang bisa mengancam kerukunan umat
beragama di indonesia
Mentri agama luqman hakim syaifudin
mengatakan, silahkan mengamalkan ajaran agama masing-masing, tapi ingat
jangan meyeragamkan nya. Agama butuh wilayah yang damai dan kehidupan yang
damai butuh nilai spiritualis agama. Ada 3 poin penting dalam mewujudkan
moderasi beragama:
1. Kaffah : pengenalan dan pengamalan ajaran islam secara
baik, benar dan menyeluruh
2. Ta’awun dan
Tasamuh : toleransi dan
saling tolong menolong dan menjaga hubungan baik kepada sesama.
3. Adil : Mengedepankan keadilan serta musyawarah dalam
menentukan kebijakan serta memecahkan masalah[9]
[1] https://media.neliti.com/media/publications/244405-prinsip-prinsip-dakwah-antarbudaya-341b4138.pdf
[2] Channel youtube Rahayu
Rintoweni, Keberagamab Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan dalam Bingkai
Bhineka Tunggal Ika, 10 Januari 2021
[3] Channel youtube Gery
Ayatullah E. Religious tolerance, 2 Maret 2021
[4] Channel youtube Rahayu Rintoweni, Keberagamab Suku, Agama, Ras
dan Antar Golongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika, 10 Januari 2021
[5] Deddy Mulyana & Jalaluddin Rakhmat (ed), Komunikasi Antar
Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya, (Bandung :
Remaja Rosdakarya, 2005),
[6] M. Nasir Tamara & Elza Peldi Taher, Agama dan Dialog Antar
Peradaban (Jakarta, Paramadina, 1996),
[7] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah (Jakarta : Prenada Media, 2004),
[8] t Moh. Ali Aziz, Op Cit, h. 19
[9] Channel youtube Andi Chairun Miftahhul Jannah, 7 januari 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar