Senin, 19 April 2021

Dakwah dalam Komunikasi Antar Etnik, Ras dan Bangsa

 

 

Dakwah dalam Komunikasi Antar Etnik, Ras dan Bangsa

 



Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural

 

 

Oleh:

Muhammad Syaiful Faiz

B01219037

 

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2021


 

PENDAHULUAN

Agama Islam mendasarkan hubungan manusia dengan lingkungan alamnya pada kasih sayang yang pantas. Artinya, Islam memperlakukan manusia sebagai bagian dari penghuni bumi dan menghubungkannya secara baik dengan bumi dan penghuni lainnya. Keanekaragaman makhluk yang ada di bumi ini adalah manifestasi kemahakuasaan Tuhan, dan bukan suatu alasan untuk menguntungkan satu makhluk dengan merugikan makhluk lainnya. Demikian pula halnya keanekaragaman budaya manusia merupakan keniscayaan yang tidak dapat dielakkan, namun budaya perlu dicermati karena tidak sepenuhnya budaya yang berkembang dalam masyarakat baik dan membawa kemaslahatan bagi manusia meskipun budaya tersebut sudah ada dan berkembang di tengah-tengah masyarakat seperti kebiasaan pesta dengan minum minuman keras dan sebagainya.

Membangun sebuah jembatan antarbudaya (dalam arti ras, kepercayaan, dan sosio-kultural), dengan landasan persamaan dan persaudaraan saat ini sangat penting. Karena manusia tidak berdiri sendiri terutama pada kehidupan yang kontemporer dan kompleks seperti dewasa ini. Hubungan kerja sama dengan sesama manusia untuk menghindari fanatisme dan etnosentrisme yang berlebihan, sebab kedua hal tersebut dapat menyebabkan perpecahan di antara manusia[1].

PEMBAHASAN

A. Ragam bentuk Koamunikasi

Komunikasi antarbudaya merupakan proses komunikasi diantara dua latar belakang budaya yang berbeda. Misalnya antara orang Indonesia dengan orang Malaysia, antara suku sunda dengan suku jawa, antara ras klokasia dengan ras Mongolia. Dalam komunikasi anatarbudaya ini rawan konflik karena memiliki pengertian atau makna yang berbeda mengenai suatu perbuatan, seperti bersendawa, dalam budaya tertentu bersendawa merupakan suatu bentuk pujian terhadap makanan yang enak, namun dalam budaya bangsa lain itu adalah sebuah ketidak sopanan[2].

Bentuk-bentuk komunikasi dalam konteks ilmu lainnya, yaitu :

1.     Komunikasi politik, proses komunikasi yang dilakukan dalam konteks perpolitikan

2.     Komunikasi kesehatan, proses komunikasi yang terjadi dalam konteks paramedic

3.     Komunikasi terapetik, proses komunikasi yang bukan hanya dalam konteks paramedic saja namun ada pula yang disebut dengan tarapis nonformal seperti tukang pijit, pengobatan alternatif , perawat dan sebagainya. Jadi komunikasi terapis adalah komunikasi dalam konteks terapis dan pasiennya.

4.     Komunikasi dakwah, kalau dalam ilmu dakwah dikatakan bahwa komunikasi adalah bagian dari dakwah, akan tetapi dari perspektif ilmu komunikasi, dakwah itu adalah salah satu metode komunikasi. Jadi komunikasi dakwah adalah proses komunikasi dalam usaha menyampaikan pesan atau nilai-nilai Islam kepada umat manusia

5.     Komunikasi krisis dan bencana, proses komunikasi dalam menghadapi dan menanggulangi krisis dan bencana

6.     Komunikasi transcendental, bentuk komunikasi yang jarang dipelajari secara eksplisit  baik di buku maupun di kelas.komunikasi transcendental merupakan proses komunikasi yang terjadi antara manusia (hamba) dengan Tuhannya. Alur komunikasinya satu arah seperti sembayang, sholat dan berdo’a. komunikasi ini biasa dikenal sebagai komunikasi untuk meminta dan memohon.

7.     Komunikasi spiritual, bentuk komunikasi yang jarang dipelajari secara eksplisit dalam textbook ilmu komunikasi. Komunikasi spiritual merupakan proses komunikasi yang melibatkan unsur spiritual (rasa). Memiliki alur dua arah dan juga merupakan proses komunikasi pada tahap yang lebih tinggi, yaitu untuk mencapa konektifitas yang solid dengan Sang Pencipta dan ciptaannya yang lain.

8.     Komunikasi spranatura;, komunikasi yang tidak perlu dipelajari cukup diketahui saja karena merupakan komunikasi yang lebih ke unsur negative. Seperti seorang dukun yang berkomunikasi dengan makhluk-makhluk astral.

B. Religius Tolerenc

            Toleransi adalah kemampuan hidup dengan sesuatu (termasuk sikap dan situasi orang lain) yang tidak Anda sukai. Anda tidak menyukainya karena ini berbeda dengan apa yang biasa Anda lakukan, tidak sesuai dengan nilai yang Anda pegang atau tradisi tempat Anda dibesarkan. Terkadang Anda harus hidup dengan hal semacam itu agar Anda tidak mengalami kesulitan atau agar Anda memahami penyebabnya yang membuat orang lain melakukan apa yang tidak Anda sukai dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dalam situasinya konflik akan terjadi sewaktu-waktu sehingga pengembangan diri terhambat. Namun, memberi banyak toleransi tidak kalah berbahayanya. Ini dapat mengakumulasi ketidakpuasan hingga ke titik tak tertahankan yang dapat menyebabkan gangguan yang lebih besar. Selain itu, toleransi sebenarnya merupakan langkah parsial pembuktian dalam hubungannya dengan hidup bersama. Seseorang tidak bisa mentolerir setiap hari, kecuali sangat sedikit orang. Seseorang mungkin bertoleransi dalam waktu yang lebih lama daripada yang lain, tetapi selalu ada batasan yang tidak dapat dilampaui. Tidaklah mudah untuk menetapkan batasan dimana kebebasan dan batasan manusia harus diakhiri. tetapi pada saat yang sama mereka menjamin penerapannya atau lebih baik memberikan ruang yang adil bagi individu untuk menggunakan kebebasan mereka. Tanpa mereka akan ada hukum "survival of the fittest" Atau, beberapa anggota komunitas atau ras manusia mungkin lebih mengutamakan kebebasan, sedangkan yang lain hanya memiliki ruang sempit untuk menjelajah, atau bahkan beberapa individu yang berkuasa mengambil alih ruang sehingga tidak memberi ruang bagi orang lain.Perkembangan dunia kita tidak memberi ruang bagi sekelompok orang untuk hidup terpisah-pisah dari orang lain. Komunitas berkembang menjadi masyarakat majemuk di mana orang-orang hidup dari berbagai latar belakang, agama, budaya, dan lain-lain. Satu-satunya pilihan yang kita miliki dalam situasi seperti ini adalah hidup bersama. Ini berarti bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat ditinggalkan atau diabaikan dalam menjamin keberadaan masyarakat mana pun. Penggunaan kekuasaan dan paksaan hanya akan menghancurkan masyarakat. Itu akan menyebabkan dendam dan kebencian yang membuat bumi tidak menyenangkan untuk ditinggali. Agama harus dihadirkan sebagai berkah bagi umat manusia karena harus memberikan pedoman hidup dan cita-cita yang harus diarahkan[3].

C. Keberagamaan suku, agama, ras dan antar golongan dalam bingkai bhineka tunggal ika

1.     keberagaman dalam masyarakat Indonesia

a.     faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia

keberagaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat yang terdapat banyak perbedaan dalam berbagai bidang perbedaan tersebut terutama dalam hal suku bangsa ras agama keyakinan ideologi politik sosial budaya ekonomi dan jenis kelamin. Keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan bangsa

b.     Keberagaman suku bangsa dan budaya

keberagaman bangsa Indonesia terutama terbentuk oleh jumlah suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia sangat banyak dan tersebar dimana-mana. Setiap suku bangsa mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya. Menurut penelitian Badan Pusat Statistik yang dilaksanakan tahun 2010 di Indonesia terdapat 1128 suku bangsa, antar suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai perbedaan dan itulah yang membentuk keanekaragaman di Indonesia

c.     Keberagaman agama dan kepercayaan

di mana di negara kita Terdapat 6 agama dan kepercayaan

d.     Keberagaman ras

ras adalah warna kulit, ada mongoloid dan Negroid ada Melanesoid kalau kita kebagian kulit sawo matang.

Dari disini ada faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia adalah keberagaman suku bangsa dan budaya ada keberagaman agama dan kepercayaan dan juga keberagaman ras atau warna kulit.

2.     Arti penting memahami keberagaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika

keberagaman suku bangsa budaya ras agama dan antargolongan menjadi daya tarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia kita tidak hanya memiliki keindahan alam tetapi juga keindahan dalam keberagaman masyarakat Indonesia

3.     Perilaku toleransi terhadap keberagaman suku agama, ras dan antargolongan

Persatuan dan kesatuan di sebuah negara yang beragam dapat diciptakan salah satunya dengan perilaku masyarakat yang menghormati keberagaman bangsa dalam mewujudkan perilaku toleransi terhadap keberagaman tersebut. Sikap toleransi berarti menahan diri bersikap sabar membiarkan orang berpendapat lain dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Toleransi sejati didasarkan sikap hormat terhadap martabat manusia, hati nurani dan keyakinan serta keikhlasan sesama apapun agamanya suku, golongan, ideologi atau pandangannya[4] 

D. Pluralisme dalam suatu etnis

Menurut Richard E. Parter & Larry A. Samovar mengatakan: bahwa budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktik komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik, dan teknologi, semua itu berdasarkan pola-pola budaya. Ada orang yang berbicara bahasa Tagalog, memakan ular, menghindari minuman keras terbuat dari anggur, menguburkan orang-orang yang mati, berbicara melalui telepon, atau meluncurkan roket ke bulan, ini semua karena mereka telah dilahirkan atau sekurang-kurangnya dibesarkan dalam suatu budaya yang mengandung unsur-unsur tersebut. Apa yang orang-orang lakukan, bagaimana mereka bertindak, bagaimana mereka hidup, bagaimana mereka berkomunikasi, merupakan respons-respons terhadap dan fungsi-fungsi dari budaya mereka[5].

Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda, dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Problem utamanya adalah bila seseorang cenderung menganggap budayanya sebagai kemestian, tanpa mempersoalkan lagi (taken for granted), dan karenanya ia menggunakannya sebagai standar untuk mengukur budaya-budaya lain. Jadi hakikat pluralis atau keanekaragaman adalah sebagai fitrah (sifat yang melekat secara alamiah) bagi manusia. Karena Tuhan telah menciptakan manusia dalam keadaan berbeda-beda. Atau dengan kata lain, bahwa sifat alamiah manusia adalah berbeda, baik dalam bentuk fisik, pemikiran dan perbuatan. Maka agama dan budaya manusia tentu juga menjadi berbeda-beda[6].

E. Dakwah Antar Etnik dan Ras

            Dakwah antarbudaya dimaksudkan ialah sesuatu yang menjadi pegangan atau acuan prediktif kebenaran yang menjadi dasar berpikir dan bertindak merealisasikan bidang dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya dan keragamannya ketika berinteraksi dengan mad’u dalam rentang ruang dan waktu sesuai perkembangan masyarakat.

Mayoritas atau hampir semua manusia menyadari bahwa keragaman dan perbedaan merupakan sebuah keniscayaan yang harus diterima dan dihadapi, walaupun terkadang sikap yang kurang tepat terhadap keragaman yang ada sering menjadi sumber konflik, jika bukan permusuhan dan peperangan. Berhenti pada tampakan keragaman dan perbedaan tertentu membuka peluang untuk terjadinya ragam konflik kemanusiaan. Oleh karenanya, manusia dituntut untuk mencari titik-titik tertentu yang memungkinkan adanya titik temu atau paling tidak kebersamaan, sehingga terbuka peluang untuk tumbuhnya sikap toleran dalam menyikapi pluralitas.

Moh. Ali Aziz mengatakan: universalitas dakwah sebenarnya memiliki dua dimensi, yaitu universal dalam arti ia berlaku untuk setiap tempat tanpa mengenal batas-batas etnis, dan universalitas dalam arti ia berlaku untuk setiap waktu tanpa adanya pembatasan. Hal ini membawa konsekuensi bahwa ajaran itu bersifat permanen sampai akhir masa yang akan datang.ix Untuk itu ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW bersifat elastis, akomodatif, dan fleksibel sehingga dalam hal-hal tertentu ia dapat mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi kebutuhan manusia. Dan karena universalitasnya itu ia menjadi penutup bagi ajaran-ajaran nabi terdahulu[7].

            Karena itu dakwah tidak semata-mata berorientasi pada kesemarakan, tetapi banyak diarahkan pada pendalaman dan pengembangan wawasan. Hal ini penting mengingat dalam kehidupan masyarakat majemuk, diperlukan sikap yang terbuka tetapi tidak larut, diperlukan sikap cosmopolitan tetapi berkepribadian. Dakwah disamping memiliki kepekaan teologis juga harus memiliki kepekaan sosial.

            Dakwah Islam merupakan ajakan untuk berpikir, berdebat, dan berargumentasi untuk menilai suatu kasus yang muncul. Dakwah Islam tidak dapat disikapi dengan keacuhan kecuali oleh orangorang yang sinis dengan penolakan atau berhati dengki. Hak berpikir merupakan sikap dan milik semua manusia. Tak satupun orang yang dapat mengingkarinya. Karena apa yang sedang diupayakan dalam dakwah adalah penilaian, maka dari hakikat sifat penilaian tujuan dakwah tak lain adalah kepasrahan yang beralasan, bebas dan sadar dari objek dakwah terhadap kandungan dakwah. Dakwah harus merupakan penjelasan tentang kesadaran, dimana akal maupun hati tidak saling mengabaikan[8].

F. Moderasi Beragama

Indonesia memiliki beragam ras, etnik dan agama, Masyarakat menjungjung tinggi nilai–nilai persatuan. Contohnya seperti moderasi beragama, indonesia dengan acuan geografi dan kemajukan manusia di bumi pertiwi dengan berbagai perbedaan dengan dilandasi toleransi menciptakan harmoni yang sepadu, sejalan, seirama dan ber-iringan. Dengan adanya keragaman indonesia mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lain.

Dalam konteks agama islam moderasi beragama berarti mengajarkan agama bukan hanya untuk membentuk pribadi, individu yang sholeh, tetapi sebagai landasan atau instrumen untuk menghargai agama dan umat beragama lain. Dalam jaman modern saat ini kita perlu memahami sikap moderasi beragama, sebab jika kita memahami moderasi beragama ini kita akan menjadi volume budaya kampung bagi kita untuk menghadapi zaman sekarang yang sudah maraknya intoleransi dan fanatisme yang berlebihan yang bisa mengancam kerukunan umat beragama di indonesia

Mentri agama luqman hakim syaifudin mengatakan, silahkan mengamalkan ajaran agama masing-masing, tapi ingat jangan meyeragamkan nya. Agama butuh wilayah yang damai dan kehidupan yang damai butuh nilai spiritualis agama. Ada 3 poin penting dalam mewujudkan moderasi beragama:

1.     Kaffah : pengenalan dan pengamalan ajaran islam secara baik, benar dan menyeluruh

2.     Ta’awun dan Tasamuh : toleransi dan saling tolong menolong dan menjaga hubungan baik kepada sesama.

3.     Adil :  Mengedepankan keadilan serta musyawarah dalam menentukan kebijakan serta memecahkan masalah[9]

 



[2]  Channel youtube Rahayu Rintoweni, Keberagamab Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika, 10 Januari 2021

[3]  Channel youtube Gery Ayatullah E. Religious tolerance, 2 Maret 2021

[4] Channel youtube Rahayu Rintoweni, Keberagamab Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika, 10 Januari 2021

[5] Deddy Mulyana & Jalaluddin Rakhmat (ed), Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005),

[6] M. Nasir Tamara & Elza Peldi Taher, Agama dan Dialog Antar Peradaban (Jakarta, Paramadina, 1996),

[7] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah (Jakarta : Prenada Media, 2004),

[8] t Moh. Ali Aziz, Op Cit, h. 19

[9] Channel youtube Andi Chairun Miftahhul Jannah, 7 januari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MINI BOOK "Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya

MINI BOOK DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dalam Memenuhi Salah Sa...