Senin, 10 Mei 2021

Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

 

Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya


Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural

 

 

Oleh:

Muhammad Syaiful Faiz

B01219037

 

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2021

 

Pendaluan

. Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri dalam buku “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yaitu merupakan interaksi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memilki latar belakang kebudayaan yang berbeda

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin yang bersifat universal. Artinya, misi dan ajaran Islam tidak hanya ditujukan kepada satu kelompok atau negara, melainkan seluruh umat manusia, bahkan jagat raya. Namun demikian, pemaknaan universalitas Islam dalam kalangan umat muslim sendiri tidak seragam. Ada kelompok yang mendefinisikan bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad yang nota-bene berbudaya Arab adalah final, sehingga harus diikuti sebagaimana adanya. Ada pula kelompok yang memaknai universalitas ajaran Islam sebagai yang tidak terbatas pada waktu dan tempat, sehingga bisa masuk ke budaya apapun.

Kelompok pertama berambisi menyeragamkan seluruh budaya yang ada di dunia menjadi satu, sebagaimana yang dipraktekkan Nabi Muhammad. Budaya yang berbeda dianggap bukan sebagai bagian dari Islam. Kelompok ini disebut kelompok fundamentalis. Sementara kelompok kedua menginginkan Islam dihadirkan sebagai nilai yang bisa memengaruhi seluruh budaya yang ada. Islam terletak pada nilai, bukan bentuk fisik dari budaya itu. Kelompok ini disebut kelompok substantif. Ada satu lagi kelompok yang menengahi keduanya, yang menyatakan, bahwa ada dari sisi Islam yang bersifat substantif, dan ada pula yang literal.


 

Pembahasan

A.Kajian Lintas Budaya

            Kajian lintas budaya modern diawali oleh George Peter Murdock ,yang terkenal dengan kajian perbandingan system-sistem dan analisis kajian lintas budaya tentang keteraturan danperbedaan-perbedaan yang terdapat diantara masyarakat yang berbeda. Dia mempelopori penggunaan pendekatan empiris terhadap antropologi melalui kompilasi data berbagai kebudayaan mandiri dan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji statistik yang sesuai. Murdok memandang dirinya lebih sebagai ilmuwan sosial yang tetap menjalin kemitraan dengan para peneliti di bidang ilmu lainnya daripada antropolog.

            kajian lintas budaya mengambil interaksi sehari-hari manusia dengan latarbelakang kebudayaan berbeda sebagai bagian dari budaya yang perlu dicermati. Kajian lintas budaya dilandaskan pada asumsi dasar bahwa kontak, persinggungan atau pergesekan antar budaya yang memicu proses inkulturasi, akulturasi, asimilasi, dan sebagainya akan mengubah budaya asli. Melalui analisis bandingan terhadap berbagai unsur yang terlibat dalam kontak antar individu dengan kebudayaan berbeda diharapkan dapat menghasilkan: (1) generalisasi induk dan orisinalitas budaya, seperti tujuan penelitian Tylor dan antropolog lainnya; dan (2) pemahaman tentang proses evolusi dan difusi budaya, yang menjadi fokus utama kajian lintas budaya kontemporer.

Kajian yang diarahkan untuk mencapai tujuan pertama di atas dilandasi pada paham positivistik dan biasanya membutuhkan sampel yang cukup besar. Dengan menggunakan metode etnografis, data dijaring tidak hanya dari satu wilayah tetapi juga dari luar wilayah budaya yang bersangkutan[1]. Kajian seperti inilah yang dilakukan Murdock.[2]ketika dia mencoba mencari korelasi budaya hubungan kekerabatan patrilineal dan matrilineal. Dia mencari seberapa jauh korelasi antar variabel, seperti mata pencaharian, kemampuan membuat tembikar, menenun, keahlian sebagai tukang, dan stratifikasi sosial. Selanjutnya, dia mengkaji masalah rasa tak sehat, bahwa dalam kebudayaan di dunia ternyata rasa tak sehat berbeda dengan rasa sakit. Dari hasil-hasil analisi data, biasanya diperoleh kesimpulan tentang adanya culture area, atau sebuah golongan budaya berdasarkan wilayah geografisnya. Sebagai contoh, menurut Endraswara Wissler sempat membagi kebudayaan suku bangsa Indian menjadi sembilan culture area. Gagasan serupa tampaknya juga telah mempengaruhi peneliti budaya di Indonesia, sehingga ada etnografi Batak, etnografi Bugis, etnografi Jawa, etnografi Sunda, dan sebagainya.

Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi dengan orang lain selalu mengandung potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya, karena akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu. Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman itu banyak ditemui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antar etnis.[3]

B. Pola Komunikasi Lintas Budaya

            Komunikasi antarbudaya merujuk pada fenomena komunikasi dimana para partisipan yang berbeda dalam latar belakang kultural menjalin kontak satu 17 samalain secara langsung maupun tidak langsung. Ketika komunikasi antarbudaya mempersyaratkan dan berkaitan dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaan- perbedaan kultural antara pihak-pihak yang terlibat, maka karakteristik- karakteristik kultural dari para partisipan bukan merupakan fokus studi dari komunikasi antarbudaya[4], melainkan proses komunikasi antara individu dengan individu dan kelompok dengan kelompok

 Proses komunikasi yang sudah masuk dalam kategori pola komunikasi yaitu; pola komunikasi komunikasi primer, pola komunikasi sekunder, pola komunikasi linear, dan pola komunikasi sirkular.

a)     Komunikasi Primer

Pola komunikasi primer merupakan suatu proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu simbol (symbol) sebagai media atau saluran. Dalam pola ini terbagi menjadi dua lambang yaitu lambang verbal dan lambang nirverbal.

b)    Komunikasi Sekunder

Pola komunikasi secara sekunder adalah penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang pada media pertama.

c)     Komunikasi Linear

Linear di sini mengandung makna lurus yang berarti perjalanan dari satu titik ke titik lain secara lurus, yang berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal.

d)    Komunikasi Sirkular

Dalam proses sirkular itu terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan ke komunikator, sebaga penentu utama keberhasilan komunikasi. Dalam pola komunikasi yang seperti ini proses komunikasi berjalan terus yaitu adaya umpan balik antara komunikator dan komunikan.

C. Prinsip Komunikasi lintas budaya[5]

a)     Relativitas bahasa

b)    Bahasa sebagai cermin budaya

c)     Mengurangi ketidakpastian

d)    Kesadaran diri dari perbedaan antar budaya

e)     Interkasi awal dan perbedaan antarbudaya

f)     Memaksimalkan hasil interaksi

D. Sosiologi Dakwah

            Sosiologi yang di pertemukan dengan ilmu dakwah sehingga keilmuan itu disebut sosiologi dakwah, ada suatu kondisi yang terlupakan saat ini[6], dimanadakwah menjadi kegiatan setiap manusia untuk menyeru kepada kebaikan dan menjauhii larangan sang pencipta, kondisi tersebut mengarahkan manusia pada keteraturan sosial nantinya menjadi dambaan manusia di kehidupan, maka kajian dakwah tanpa hal keagamaan seseorang menjadi misi bersama, sebenarnya dikarenakan menyampaikan hal baik dan terhindar dari hal-halburuk sebuah keniscayaan manusia menjadi pengingat bagi manusia lainya.

            Pada saat dakwah mengalami problematika berdampak pada berpecah belah manusia dari tingkat regional samapai dengan international. Menandakan kutuhan umat beragama sekalipun terdapat ancaman, dalam keutuhan beragama tidak hanya di islam aja mestinya kerukunan itu diupayakan oleh pemuka dan pemeluk agama lain turut menjadi umatnya agar selalubersatu dalam bingkai perdamaian. Dari problem pada perlintasan dakwah tersebut menjadi bukti bahwa ilmu dakwah pun sedang mengalami sedang mengalami kondisi polimik, sosiokultural, religius.

Eksistensi dakwah akan senantiasa bersentuhan dengan realitas sosio-kultural yang mengitarinya, sesuai konsekuensi posisi dakwah, dakwah sebagai satu variabel dan problematika kehidupan sosial sebagai variabel yang lain, maka keberadaan dakwah dalam suatu komunitas dapat dilihat dari fungsi dan perannya dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut, sehingga lahir masyarakat baru yang diidealkan (khoiru ummah). Secara substansial dakwah merupakan pendidikan masyarakat, yang dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita pendidikan nasional[7]. Tujuan seperti diamanahkan pendidikan nasional tersebut menempatkan dimenasi moral keagamaan sebagai bagian penting dalam proses berdakwah.



[1] SHAHIH - Vol. 1, Nomor 1, Januari – Juni 2016

[2] (Wikipedia, 2008e)

[3] Poerwanto, Heri. 2002. “Analisis Komparasi Lintas Budaya”. Jurnal Humaniora Vol.XIV, No.1 2002.

[4] (Rahardjo, 2005: h. 54).

[5]  Channel youtub Ihkwanul hakim, prinsip komunikasi lintas budaya 2019

[6] Channel youtube Aby herman official, sosiologi dakwah, february 2021

1 komentar:

MINI BOOK "Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya

MINI BOOK DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dalam Memenuhi Salah Sa...