Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya
Diajukan Kepada
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Dalam Memenuhi
Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural
Oleh:
Muhammad Syaiful Faiz
B01219037
PROGRAM
STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2021
Pendaluan
. Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat
dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia
berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri
dalam buku “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang
komunikasi antar budaya yaitu merupakan interaksi dan komunikasi antar pribadi
yang dilakukan oleh beberapa orang yang memilki latar belakang
kebudayaan yang berbeda
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin yang bersifat universal.
Artinya, misi dan ajaran Islam tidak hanya ditujukan kepada satu kelompok atau
negara, melainkan seluruh umat manusia, bahkan jagat raya. Namun demikian,
pemaknaan universalitas Islam dalam kalangan umat muslim sendiri tidak seragam.
Ada kelompok yang mendefinisikan bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad
yang nota-bene berbudaya Arab adalah final, sehingga harus diikuti sebagaimana
adanya. Ada pula kelompok yang memaknai universalitas ajaran Islam sebagai yang
tidak terbatas pada waktu dan tempat, sehingga bisa masuk ke budaya apapun.
Kelompok pertama berambisi menyeragamkan seluruh budaya yang ada di
dunia menjadi satu, sebagaimana yang dipraktekkan Nabi Muhammad. Budaya yang
berbeda dianggap bukan sebagai bagian dari Islam. Kelompok ini disebut kelompok
fundamentalis. Sementara kelompok kedua menginginkan Islam dihadirkan sebagai
nilai yang bisa memengaruhi seluruh budaya yang ada. Islam terletak pada nilai,
bukan bentuk fisik dari budaya itu. Kelompok ini disebut kelompok substantif.
Ada satu lagi kelompok yang menengahi keduanya, yang menyatakan, bahwa ada dari
sisi Islam yang bersifat substantif, dan ada pula yang literal.
Pembahasan
A.Kajian Lintas
Budaya
Kajian lintas budaya modern diawali oleh George Peter Murdock ,yang
terkenal dengan kajian perbandingan system-sistem dan analisis kajian lintas
budaya tentang keteraturan danperbedaan-perbedaan yang terdapat diantara
masyarakat yang berbeda. Dia mempelopori penggunaan pendekatan empiris terhadap
antropologi melalui kompilasi data berbagai kebudayaan mandiri dan pengujian
hipotesis dengan menggunakan uji statistik yang sesuai. Murdok memandang
dirinya lebih sebagai ilmuwan sosial yang tetap menjalin kemitraan dengan para
peneliti di bidang ilmu lainnya daripada antropolog.
kajian
lintas budaya mengambil interaksi sehari-hari manusia dengan latarbelakang
kebudayaan berbeda sebagai bagian dari budaya yang perlu dicermati. Kajian
lintas budaya dilandaskan pada asumsi dasar bahwa kontak, persinggungan atau
pergesekan antar budaya yang memicu proses inkulturasi, akulturasi, asimilasi,
dan sebagainya akan mengubah budaya asli. Melalui analisis bandingan terhadap
berbagai unsur yang terlibat dalam kontak antar individu dengan kebudayaan
berbeda diharapkan dapat menghasilkan: (1) generalisasi induk dan orisinalitas
budaya, seperti tujuan penelitian Tylor dan antropolog lainnya; dan (2)
pemahaman tentang proses evolusi dan difusi budaya, yang menjadi fokus utama
kajian lintas budaya kontemporer.
Kajian yang diarahkan untuk mencapai tujuan
pertama di atas dilandasi pada paham positivistik dan biasanya membutuhkan
sampel yang cukup besar. Dengan menggunakan metode etnografis, data dijaring
tidak hanya dari satu wilayah tetapi juga dari luar wilayah budaya yang
bersangkutan[1].
Kajian seperti inilah yang dilakukan Murdock.[2]ketika
dia mencoba mencari korelasi budaya hubungan kekerabatan patrilineal dan
matrilineal. Dia mencari seberapa jauh korelasi antar variabel, seperti mata
pencaharian, kemampuan membuat tembikar, menenun, keahlian sebagai tukang, dan
stratifikasi sosial. Selanjutnya, dia mengkaji masalah rasa tak sehat,
bahwa dalam kebudayaan di dunia ternyata rasa tak sehat berbeda dengan rasa
sakit. Dari hasil-hasil analisi data, biasanya diperoleh kesimpulan tentang
adanya culture area, atau sebuah golongan budaya berdasarkan wilayah
geografisnya. Sebagai contoh, menurut Endraswara Wissler sempat membagi
kebudayaan suku bangsa Indian menjadi sembilan culture area. Gagasan serupa
tampaknya juga telah mempengaruhi peneliti budaya di Indonesia, sehingga ada
etnografi Batak, etnografi Bugis, etnografi Jawa, etnografi Sunda, dan
sebagainya.
Budaya-budaya yang berbeda memiliki
sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup
yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi yang sangat dipengaruhi oleh
bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi dengan orang
lain selalu mengandung potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya,
karena akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain,
seberapa pun kecilnya perbedaan itu. Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya
dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi
yang tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman.
Akibat dari kesalahpahaman itu banyak ditemui dalam berbagai kejadian yang mengandung
etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada
kerusuhan atau pertentangan antar etnis.[3]
B. Pola Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi antarbudaya merujuk pada fenomena komunikasi dimana para
partisipan yang berbeda dalam latar belakang kultural menjalin kontak satu 17
samalain secara langsung maupun tidak langsung. Ketika komunikasi antarbudaya
mempersyaratkan dan berkaitan dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaan- perbedaan
kultural antara pihak-pihak yang terlibat, maka karakteristik- karakteristik
kultural dari para partisipan bukan merupakan fokus studi dari komunikasi
antarbudaya[4],
melainkan proses komunikasi antara individu dengan individu dan kelompok dengan
kelompok
Proses
komunikasi yang sudah masuk dalam kategori pola komunikasi yaitu; pola
komunikasi komunikasi primer, pola komunikasi sekunder, pola komunikasi linear,
dan pola komunikasi sirkular.
a) Komunikasi Primer
Pola komunikasi primer merupakan suatu proses
penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu
simbol (symbol) sebagai media atau saluran. Dalam pola ini terbagi menjadi dua
lambang yaitu lambang verbal dan lambang nirverbal.
b) Komunikasi Sekunder
Pola komunikasi secara sekunder adalah
penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat
atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang pada media pertama.
c) Komunikasi Linear
Linear di sini mengandung makna lurus yang
berarti perjalanan dari satu titik ke titik lain secara lurus, yang berarti
penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal.
d) Komunikasi Sirkular
Dalam proses sirkular itu terjadinya feedback
atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan ke komunikator, sebaga
penentu utama keberhasilan komunikasi. Dalam pola komunikasi yang seperti ini
proses komunikasi berjalan terus yaitu adaya umpan balik antara komunikator dan
komunikan.
C. Prinsip Komunikasi lintas budaya[5]
a) Relativitas bahasa
b) Bahasa sebagai cermin budaya
c) Mengurangi ketidakpastian
d) Kesadaran diri dari perbedaan antar budaya
e) Interkasi awal dan perbedaan antarbudaya
f) Memaksimalkan hasil interaksi
D. Sosiologi Dakwah
Sosiologi
yang di pertemukan dengan ilmu dakwah sehingga keilmuan itu disebut sosiologi
dakwah, ada suatu kondisi yang terlupakan saat ini[6],
dimanadakwah menjadi kegiatan setiap manusia untuk menyeru kepada kebaikan dan
menjauhii larangan sang pencipta, kondisi tersebut mengarahkan manusia pada
keteraturan sosial nantinya menjadi dambaan manusia di kehidupan, maka kajian
dakwah tanpa hal keagamaan seseorang menjadi misi bersama, sebenarnya
dikarenakan menyampaikan hal baik dan terhindar dari hal-halburuk sebuah
keniscayaan manusia menjadi pengingat bagi manusia lainya.
Pada
saat dakwah mengalami problematika berdampak pada berpecah belah manusia dari
tingkat regional samapai dengan international. Menandakan kutuhan umat beragama
sekalipun terdapat ancaman, dalam keutuhan beragama tidak hanya di islam aja
mestinya kerukunan itu diupayakan oleh pemuka dan pemeluk agama lain turut
menjadi umatnya agar selalubersatu dalam bingkai perdamaian. Dari problem pada
perlintasan dakwah tersebut menjadi bukti bahwa ilmu dakwah pun sedang
mengalami sedang mengalami kondisi polimik, sosiokultural, religius.
Eksistensi dakwah akan senantiasa bersentuhan
dengan realitas sosio-kultural yang mengitarinya, sesuai konsekuensi posisi
dakwah, dakwah sebagai satu variabel dan problematika kehidupan sosial sebagai
variabel yang lain, maka keberadaan dakwah dalam suatu komunitas dapat dilihat
dari fungsi dan perannya dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut, sehingga
lahir masyarakat baru yang diidealkan (khoiru ummah). Secara substansial dakwah merupakan pendidikan masyarakat, yang
dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita pendidikan nasional[7].
Tujuan seperti diamanahkan pendidikan nasional tersebut menempatkan dimenasi
moral keagamaan sebagai bagian penting dalam proses berdakwah.
[1] SHAHIH - Vol. 1, Nomor 1, Januari – Juni 2016
[2] (Wikipedia, 2008e)
[3] Poerwanto, Heri. 2002. “Analisis Komparasi Lintas Budaya”. Jurnal
Humaniora Vol.XIV, No.1 2002.
[4]
(Rahardjo, 2005: h. 54).
[5] Channel youtub Ihkwanul hakim, prinsip
komunikasi lintas budaya 2019
[6] Channel youtube Aby herman official, sosiologi dakwah, february 2021
bagus....
BalasHapus