Senin, 31 Mei 2021

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah.


PROPOSAL ARTIKEL

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah.

 

Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural

 

 

Oleh:

Muhammad Syaiful Faiz

B01219037

 

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2021


 

Pendahuluan

            Komunikasi antarbudaya yang efektif ditentukan oleh bagaimana orang memahami kepercayaan dan sikap kebudayaan orang lain. Pergaulan dengan orang-orang dari suku bangsa maupun agama yang lain ditentukan oleh sejauh mana anda menunjukkan sikap peka dan kepedulian terhadap kepercayaan orang lain.

 Dalam kebanyakan peristiwa komunikasi yang berlangsung, hampir selalu melibatkan penggunaan lambang-lambang verbal dan non verbal secara bersama-sama. keduanya , bahasa verbal dan non verbal, memiliki sifat yang holistic( masing-masing tidak dapat dipisahkan). Dalam banyak tindakan komunikasi , bahasa non verbal menjadi komplemen atau pelengkap bahasa verbal. Lambang-lambang non verbal juga dapat berfungsi kontradiktif, pengulangan, bahkan pengganti ungkapan-ungkapan verbal, misalnya ketika seseorang mengatakan terima kasih( bahasa verbal) maka orang tersebut akan melengkapinya dengan tersenyum( bahasa non verbal), seseorang setuju dengan pesan yang disampaikan orang lain dengan anggukan kepala ( bahasa non verbal). Dua komunikasi tersebut merupakan contoh bahwa bahasa verbal dan non verbal bekerja bersama-sama dalam menciptakan makna suatu perilaku komunikasi.

 ilmu dakwah merupakan  ilmu yang berisi cara dan tuntunan untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti, menyetujui atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu. Orang yang menyampaikan dakwah disebut da'i.sedangkan yang menjadi objek dakwah disebut mad'u. Setiap Muslim yang menjalankan fungsi dakwah Islam adalah da'i.


 

Pembahasan

A. Komunikasi Verbal Lintas budaya

            Berkomunikasi dapat dilakukan secara verbal dan non verbal, Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata baik yang dinyatakan secara oral atau lisan maupun tulisan. Sedangkan komunikasi non verbal adalah penciptaan melalui gerak tubuh, sikap tubuh, vokal yang  bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka dan sentuhan[1].

            Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan fikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang mempresentatifkan berbagai aspek realitas individu kita. Dengan kata lain, kata-kata adalah abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang mewakili kata-kata itu. Misalnya kata rumah, kursi atau mobil. Realitas apa yang mewakili setiap kata itu?. Begitu banyak ragam rumah, ada rumah bertingkat, rumah mewah, rumah sederhana, rumah hewan, rumah tembok, rumah bilik, dan yang lainnya. Begitu juga kursi, ada kursi jok, kursi kerja, kursi plastik, kursi malas, dan sebagainya. Kata mobil-pun ternyata tidak sederhana, ada sedan, truk, minibus, ada mobil pribadi, mobil angkutan dan sebagainya.

              Bila kita menyertakan budaya sebagai variable dalam proses komunikasi tersebut, maka masalahnya akan semakin rumit. Ketika kita berkomunikasi dengan seseorang dari budaya kita sendiri, proses komunikasi akan jauh lebih mudah, karena dalam suatu budaya orang-orang berbagi sejumlah pengalaman serupa. Namun bila komunikasi melibatkan orang-orang berbeda budaya, banyak pengalaman berbeda dan akhirnya proses komunikasi juga menyulitkan.

            Agar komunikasi kita berhasil, bahasa harus memenuhi tiga fungsi yaitu: untuk mengenal dunia disekitar kita; berhubungan dengan orang lain; dan untuk menciptakan koherensi dalam hidup kita. Melalui fungsi pertama kita dapat mempelajari apa saja yang menarik minat kita, mulai dari sejarah yang hidup pada masa lalu seperti Mesir Kuno. Kita juga dapat berbagi pengalaman masa lalu dan masa kini yang kita alami, dan juga pengetahuan yang kita dapatkan dari berbagai media. Fungsi bahasa kedua adalah sebagai sarana untuk berhubungan dengan orang lain[2]. Fungsi ini berkaitan dengan fungsi komunikasi khususnya fungsi sosial dan fungsi instrumental. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan kita dan untuk mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan. Melaui bahasa kita dapat mengandalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang disekitar kita. Kemampuan orang lain dengan orang lain tidak hanya tergantung pada bahasa yang sama, namun juga pengalaman yang sama dan makna yang sam dalam kata-kata yang kita sampaikan. Sedangkan fungsi ketiga memungkinkan kita untuk hidup lebih teratur, saling memahami diantara kita, baik kepercayaan maupun tujuan-tujuan kita. Kita tidak mungkin menjelaskan semua itu dengan menyusun kata-kata secara acak melainkan berdasarkan aturan-aturan tertentu yang telah kita sepakati bersama. Akan tetapi kita sebenarnya tidak selamanya dapat memenuhi ketiga fungsi tersebut, karena meskipun bahasa merupakan sarana komunikasi dengan manusia lain, sarana ini secara inheren mengandung kendala karena keterbatasan sifatnya. Seperti dikatakan S.I Hayakawa;” kata itu bukan objek”. Bila orang-orang memaknai suatu kata secara berbeda, maka akan timbul kesalahpahaman diantara mereka. menyalurkan dan turut membentuk pikiran. Kemempuan menyampaikan pesan verbal antar budaya.

 Menurut Ohoiwutun dalam Liliweri dalam berkomunikasi antar budaya ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu;1) kapan orang berbicara; 2)apa yang dikatakan; 3)hal memperhatikan; 4) intonasi; 5) gaya kaku dan puitis serta 6)bahasa tidak langsung. Ke enam hal tersebut adalah saat yang tepat bagi seseorang untuk menyampaikan pesan verbal dalam komunikasi antar budaya.

1.     Kapan orang berbicara

            Jika kita berkomunikasi antar budaya perlu diperhatikan ada kebiasaan budaya yang mengajarkan kepatutan kapan seorang harus atau boleh berbicara. Orang Timor, Batak, Sulawesi, Ambon, Irian, mewarisi sikap kapan saja bisa berbicara, tanpa membedakan tua dan muda, artinya berbicara semaunya saja, berbicara tidak mengenal batas usia. Namun orang Jawa dan Sunda mengenbal aturan atau kebiasaan kapan orang berbicara, misalnya yang lebih muda mendengarkan lebih banyak daripada yang tua, yang tua lebih bayak berbicara dari yang muda[3].


 

2.     apa yang dikatakan

            selalu terkait dengan pengalaman dan perasaan pribadi .Masing-masing anggota kelompok kurang tertarik pada isi ceritera yang di-kemukakan anggota kelompok lainnya .

3.     hal memperhatikan

Konsep ini berkaitan erat dengan gaze atau pandangan mata yang diperkenankan waktu berbicara bersama-sama .Orang-orang kulit hitam biasanya berbicara sambil menatap mata dan wajah orang lain, hal yang sama terjadi bagi orang Batak dan Timor. Sebaliknya oran Jawa tidak mementingkan ‘melihat’ tetapi mendengarkan. Sebaliknya orang Timor merasa dilecehkan karena si Jawa tidak melihat dia waktu memberikan pengarahan.

4.     Intonasi

tinggi rendahnya suatu nada pada kalimat yang memberikan penekanan dalam kata-kata tertentu di suatu kalimat

5.     gaya kaku dan puitis

Jika anda membandingkan bahasa Indonesia yang diguratkan pada awal berdirinya Negara ini dengan gaya yang dipakai dewasa ini, dekade 90-an maka anda akan dapati bahwa bahasa Indonesia tahun 1950-an lebih kaku. Gaya bahasa sekarang lebih dinamis lebih banyak kata dan frase dengan makna ganda, tergantung dari konteksnya. Perbedaan ini terjadi sebagai akibat perkembangan bahasa. Tahun 1950-an bahasa Indonesia hanya dipengaruhi secara dominan oleh bahasa Melayu.

6.     Bahasa tidak langsung

Setiap bahasa mengajarkan kepada para penuturnya mekanisme untuk menyatakan sesuatu secara langsung atau tidak langsung. Jika anda berhadapan dengan orang Jepang, maka anda akan menemukan bahwa mereka sering berbahasa secara tidak langsung, baik verbal maupun non verbal[4].


 

B. Komunikasi Non-Verbal lintas budaya

Dalam proses non verbal yang relevan dengan komunikasi antar budya terdapat tiga aspek yaitu; perilaku non verbal yang berfungsi sebagai bahasa diam, konsep waktu dan penggunaan dan pengaturan ruang.          

Pentingnya perilaku non verbal ini misalnya dilukiskan dalam frase, ”bukan apa yang ia katakan tapi bagaimana ia mengatakannya”. Lewat perilaku non verbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau sedih. Secara sederhana, pesan non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata.

Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter , komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan kecuali rangsangan verbal dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima; jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan; kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpamenyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna pada orang lain[5].

Sebagai suatau komponen budaya, ekspresi non verbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian pengalaman budaya. Lambang-lambang non verbal dan respon-respon yang ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya – apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut. Kita dapat mengklasifikasikan pesan-pesan nonverbal ini dengan berbagai cara.Jurgen Ruesch mengklasifikasikan isyarat nonverbal menjadi tiga bagian.Pertama,bahasa tanda (sign language)-acungan jempol untuk numpang mobil secara gratis;bahasa isyarat tuna rungu ;kedua,bahasa tindakan (action language)-semua gerakan tubuh yang tidak digunakan secara eksklusif untuk memberikan sinyal, misalnya,berjalan;dan ketiga,bahasa objek (object language)-pertunjukan benda,pakaian,dan lambang nonverbal bersifat publik lainnya seperti ukuran ruangan,bendera, gambar(lukisan),musik (misalnya marching band),dan sebagainya,baik secara sengaja ataupun tidak.[6]

C. Dakwah Dalam Komunikasi Verbal Dan Non Verbal

            Dalam agama maupun budaya merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Orang yang mengajak agar melestarikan lingkungannya, mencintai dan menyayangi sesama   manusia,   saling   menghargai   dan   menghormati,   kompetisi   sehat   dan   nilai-nilai kemanusiaan  lainnya  ternyata  bukan  hanya  monopoli  khotbah  Sang  Pastor  di  gereja-gereja, nasehat-nasehat  mubaligh  di  podium,  para  politisi  dalam  kampanye  pemilu  atau  sikap  biksu dan  pendeta  bijak  pada  keyakinan  dan  ajaran-ajaran  agama  yang  berbeda.  Sikap  saling membela dalam  mempertahankan budaya  dan  tradisi  suatu masyarakat tidak hanya monopoli kaum  primitif  yang  hidup  di  hutan  nan  jauh  dari  keramaian  kota  seperti  suku-suku  di  Papua dan  Kalimantan,  tetapi  hampir  setiap  masyarakat  menyatu  dengan  budayanya  berhak  untuk melestarikannya.

            Pengakuan  terhadap  keragaman  beragama  misalnya,  tidak  bisa  dilaksanakan  apabila dalam diri seseorang masih ada perasaan curiga dan prasangka buta yang saling menyalahkan bahkan  mencaci  agama  dan  kepercayaan  yang  ada  di  luar  dirinya.  Meskipun  setiap  agama mempunyai landasan doktriner untuk menyebarkan ajarannya, penyebaran tersebut tetap harus dilakukan dalam suasana saling menghormati kepercayaan agama orang lain. Kasus perkasus tragedi  kemanusiaan  atas  nama  agama  sudah  banyak  kita  saksikan  sebagai  bukti  bahwa keragaman  perbedaan  adalah  keniscayaan  yang  harus  diakui  keberadaannya.  Bahkan  suatu proyek  pembangunan  yang  dilaksanakan  pemerintah  sering  berakhir  dengan  benturan  antar aparat dan warga hanya karena proyek pembangunan tersebut menyinggung dan mengganggu kebiasaan dan adat-istiadat dalam kelangsungan hidup masyarakat setempat[7].Begitu  juga  dengan  dakwah,  tidak  akan  jauh  mengalami  nasib  yang  sama  apabila pelaksanaan  dakwah  tersebut  tidak  memperhatikan  dan  mengindahkan  nilai-nilai  budaya termasuk tradisi  beragama yang dianut  masyarakat. Dakwah tersebut akan  ditolak dan segera ditinggalkan  umat.  Padahal,  selain  untuk  diri  sendiri,  dakwah  dilakukan  untuk  membimbing umat.  Aktivitas  dakwah  pada  era  sekarang  dituntut  melakukan  upaya-upaya  dan  pendekatan-pendekatan  dakwah  yang  lebih  bisa  mengayomi  dan  mempertimbangkan  budaya-budaya masyarakat tertentu yang berpijak pada nilai-nilai universal kemanusiaan. Dakwah merupakan suatu proses, maka layaknya suatu proses mesti dilakukan dengan cara-cara dan strategi yang lebih   terencana,   konseptual   dan   terus-menerus (continue)seraya   terus   meningkatkan pendekatan-pendekatan yang lebih ramah tanpa mengubah maksud dan tujuan dakwah[8].



[1] Dedy mulyana, ilmu kominikasi suatu pengantar, (Bandung Remaja Rosdakarya), 2003

[2] Menurut Mulyana( 2007)

[4]  S. Djuarsa Sendjaja, Teori komunikasi, (Jakarta, Universitas Terbuka, 2005)

[7]  Nurcholish Majid, Islam, Doktrin dan Peradaban,(Jakarta: Paramadina, 1992)

 

[8]  Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997)

 

Senin, 10 Mei 2021

Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

 

Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya


Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural

 

 

Oleh:

Muhammad Syaiful Faiz

B01219037

 

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2021

 

Pendaluan

. Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri dalam buku “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yaitu merupakan interaksi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memilki latar belakang kebudayaan yang berbeda

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin yang bersifat universal. Artinya, misi dan ajaran Islam tidak hanya ditujukan kepada satu kelompok atau negara, melainkan seluruh umat manusia, bahkan jagat raya. Namun demikian, pemaknaan universalitas Islam dalam kalangan umat muslim sendiri tidak seragam. Ada kelompok yang mendefinisikan bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad yang nota-bene berbudaya Arab adalah final, sehingga harus diikuti sebagaimana adanya. Ada pula kelompok yang memaknai universalitas ajaran Islam sebagai yang tidak terbatas pada waktu dan tempat, sehingga bisa masuk ke budaya apapun.

Kelompok pertama berambisi menyeragamkan seluruh budaya yang ada di dunia menjadi satu, sebagaimana yang dipraktekkan Nabi Muhammad. Budaya yang berbeda dianggap bukan sebagai bagian dari Islam. Kelompok ini disebut kelompok fundamentalis. Sementara kelompok kedua menginginkan Islam dihadirkan sebagai nilai yang bisa memengaruhi seluruh budaya yang ada. Islam terletak pada nilai, bukan bentuk fisik dari budaya itu. Kelompok ini disebut kelompok substantif. Ada satu lagi kelompok yang menengahi keduanya, yang menyatakan, bahwa ada dari sisi Islam yang bersifat substantif, dan ada pula yang literal.


 

Pembahasan

A.Kajian Lintas Budaya

            Kajian lintas budaya modern diawali oleh George Peter Murdock ,yang terkenal dengan kajian perbandingan system-sistem dan analisis kajian lintas budaya tentang keteraturan danperbedaan-perbedaan yang terdapat diantara masyarakat yang berbeda. Dia mempelopori penggunaan pendekatan empiris terhadap antropologi melalui kompilasi data berbagai kebudayaan mandiri dan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji statistik yang sesuai. Murdok memandang dirinya lebih sebagai ilmuwan sosial yang tetap menjalin kemitraan dengan para peneliti di bidang ilmu lainnya daripada antropolog.

            kajian lintas budaya mengambil interaksi sehari-hari manusia dengan latarbelakang kebudayaan berbeda sebagai bagian dari budaya yang perlu dicermati. Kajian lintas budaya dilandaskan pada asumsi dasar bahwa kontak, persinggungan atau pergesekan antar budaya yang memicu proses inkulturasi, akulturasi, asimilasi, dan sebagainya akan mengubah budaya asli. Melalui analisis bandingan terhadap berbagai unsur yang terlibat dalam kontak antar individu dengan kebudayaan berbeda diharapkan dapat menghasilkan: (1) generalisasi induk dan orisinalitas budaya, seperti tujuan penelitian Tylor dan antropolog lainnya; dan (2) pemahaman tentang proses evolusi dan difusi budaya, yang menjadi fokus utama kajian lintas budaya kontemporer.

Kajian yang diarahkan untuk mencapai tujuan pertama di atas dilandasi pada paham positivistik dan biasanya membutuhkan sampel yang cukup besar. Dengan menggunakan metode etnografis, data dijaring tidak hanya dari satu wilayah tetapi juga dari luar wilayah budaya yang bersangkutan[1]. Kajian seperti inilah yang dilakukan Murdock.[2]ketika dia mencoba mencari korelasi budaya hubungan kekerabatan patrilineal dan matrilineal. Dia mencari seberapa jauh korelasi antar variabel, seperti mata pencaharian, kemampuan membuat tembikar, menenun, keahlian sebagai tukang, dan stratifikasi sosial. Selanjutnya, dia mengkaji masalah rasa tak sehat, bahwa dalam kebudayaan di dunia ternyata rasa tak sehat berbeda dengan rasa sakit. Dari hasil-hasil analisi data, biasanya diperoleh kesimpulan tentang adanya culture area, atau sebuah golongan budaya berdasarkan wilayah geografisnya. Sebagai contoh, menurut Endraswara Wissler sempat membagi kebudayaan suku bangsa Indian menjadi sembilan culture area. Gagasan serupa tampaknya juga telah mempengaruhi peneliti budaya di Indonesia, sehingga ada etnografi Batak, etnografi Bugis, etnografi Jawa, etnografi Sunda, dan sebagainya.

Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi dengan orang lain selalu mengandung potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya, karena akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu. Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman itu banyak ditemui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antar etnis.[3]

B. Pola Komunikasi Lintas Budaya

            Komunikasi antarbudaya merujuk pada fenomena komunikasi dimana para partisipan yang berbeda dalam latar belakang kultural menjalin kontak satu 17 samalain secara langsung maupun tidak langsung. Ketika komunikasi antarbudaya mempersyaratkan dan berkaitan dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaan- perbedaan kultural antara pihak-pihak yang terlibat, maka karakteristik- karakteristik kultural dari para partisipan bukan merupakan fokus studi dari komunikasi antarbudaya[4], melainkan proses komunikasi antara individu dengan individu dan kelompok dengan kelompok

 Proses komunikasi yang sudah masuk dalam kategori pola komunikasi yaitu; pola komunikasi komunikasi primer, pola komunikasi sekunder, pola komunikasi linear, dan pola komunikasi sirkular.

a)     Komunikasi Primer

Pola komunikasi primer merupakan suatu proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu simbol (symbol) sebagai media atau saluran. Dalam pola ini terbagi menjadi dua lambang yaitu lambang verbal dan lambang nirverbal.

b)    Komunikasi Sekunder

Pola komunikasi secara sekunder adalah penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang pada media pertama.

c)     Komunikasi Linear

Linear di sini mengandung makna lurus yang berarti perjalanan dari satu titik ke titik lain secara lurus, yang berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal.

d)    Komunikasi Sirkular

Dalam proses sirkular itu terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan ke komunikator, sebaga penentu utama keberhasilan komunikasi. Dalam pola komunikasi yang seperti ini proses komunikasi berjalan terus yaitu adaya umpan balik antara komunikator dan komunikan.

C. Prinsip Komunikasi lintas budaya[5]

a)     Relativitas bahasa

b)    Bahasa sebagai cermin budaya

c)     Mengurangi ketidakpastian

d)    Kesadaran diri dari perbedaan antar budaya

e)     Interkasi awal dan perbedaan antarbudaya

f)     Memaksimalkan hasil interaksi

D. Sosiologi Dakwah

            Sosiologi yang di pertemukan dengan ilmu dakwah sehingga keilmuan itu disebut sosiologi dakwah, ada suatu kondisi yang terlupakan saat ini[6], dimanadakwah menjadi kegiatan setiap manusia untuk menyeru kepada kebaikan dan menjauhii larangan sang pencipta, kondisi tersebut mengarahkan manusia pada keteraturan sosial nantinya menjadi dambaan manusia di kehidupan, maka kajian dakwah tanpa hal keagamaan seseorang menjadi misi bersama, sebenarnya dikarenakan menyampaikan hal baik dan terhindar dari hal-halburuk sebuah keniscayaan manusia menjadi pengingat bagi manusia lainya.

            Pada saat dakwah mengalami problematika berdampak pada berpecah belah manusia dari tingkat regional samapai dengan international. Menandakan kutuhan umat beragama sekalipun terdapat ancaman, dalam keutuhan beragama tidak hanya di islam aja mestinya kerukunan itu diupayakan oleh pemuka dan pemeluk agama lain turut menjadi umatnya agar selalubersatu dalam bingkai perdamaian. Dari problem pada perlintasan dakwah tersebut menjadi bukti bahwa ilmu dakwah pun sedang mengalami sedang mengalami kondisi polimik, sosiokultural, religius.

Eksistensi dakwah akan senantiasa bersentuhan dengan realitas sosio-kultural yang mengitarinya, sesuai konsekuensi posisi dakwah, dakwah sebagai satu variabel dan problematika kehidupan sosial sebagai variabel yang lain, maka keberadaan dakwah dalam suatu komunitas dapat dilihat dari fungsi dan perannya dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut, sehingga lahir masyarakat baru yang diidealkan (khoiru ummah). Secara substansial dakwah merupakan pendidikan masyarakat, yang dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita pendidikan nasional[7]. Tujuan seperti diamanahkan pendidikan nasional tersebut menempatkan dimenasi moral keagamaan sebagai bagian penting dalam proses berdakwah.



[1] SHAHIH - Vol. 1, Nomor 1, Januari – Juni 2016

[2] (Wikipedia, 2008e)

[3] Poerwanto, Heri. 2002. “Analisis Komparasi Lintas Budaya”. Jurnal Humaniora Vol.XIV, No.1 2002.

[4] (Rahardjo, 2005: h. 54).

[5]  Channel youtub Ihkwanul hakim, prinsip komunikasi lintas budaya 2019

[6] Channel youtube Aby herman official, sosiologi dakwah, february 2021

MINI BOOK "Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya

MINI BOOK DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dalam Memenuhi Salah Sa...