PROPOSAL ARTIKEL
Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu
ad-Dakwah.
Diajukan Kepada
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Dalam Memenuhi
Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural
Oleh:
Muhammad Syaiful Faiz
B01219037
PROGRAM
STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2021
Pendahuluan
Komunikasi antarbudaya yang efektif ditentukan oleh bagaimana
orang memahami kepercayaan dan sikap kebudayaan orang lain. Pergaulan
dengan orang-orang dari suku bangsa maupun agama yang lain ditentukan oleh
sejauh mana anda menunjukkan sikap peka dan kepedulian terhadap kepercayaan
orang lain.
Dalam kebanyakan peristiwa komunikasi yang berlangsung, hampir
selalu melibatkan penggunaan lambang-lambang verbal dan non verbal secara
bersama-sama. keduanya , bahasa verbal dan non verbal, memiliki sifat yang
holistic( masing-masing tidak dapat dipisahkan). Dalam banyak tindakan
komunikasi , bahasa non verbal menjadi komplemen atau pelengkap bahasa verbal.
Lambang-lambang non verbal juga dapat berfungsi kontradiktif, pengulangan,
bahkan pengganti ungkapan-ungkapan verbal, misalnya ketika seseorang mengatakan
terima kasih( bahasa verbal) maka orang tersebut akan melengkapinya dengan
tersenyum( bahasa non verbal), seseorang setuju dengan pesan yang disampaikan
orang lain dengan anggukan kepala ( bahasa non verbal). Dua komunikasi tersebut
merupakan contoh bahwa bahasa verbal dan non verbal bekerja bersama-sama dalam
menciptakan makna suatu perilaku komunikasi.
ilmu
dakwah merupakan ilmu yang berisi cara dan tuntunan untuk menarik
perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti, menyetujui atau melaksanakan
suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu. Orang yang
menyampaikan dakwah disebut da'i.sedangkan
yang menjadi objek dakwah disebut mad'u. Setiap Muslim yang
menjalankan fungsi dakwah Islam adalah da'i.
Pembahasan
A. Komunikasi Verbal Lintas budaya
Berkomunikasi
dapat dilakukan secara verbal dan non verbal, Komunikasi verbal adalah
komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata baik yang dinyatakan
secara oral atau lisan maupun tulisan. Sedangkan komunikasi non verbal adalah
penciptaan melalui gerak tubuh, sikap tubuh, vokal yang bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka
dan sentuhan[1].
Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan fikiran,
perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang
mempresentatifkan berbagai aspek realitas individu kita. Dengan kata lain,
kata-kata adalah abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi
yang merupakan totalitas objek atau konsep yang mewakili kata-kata itu.
Misalnya kata rumah, kursi atau mobil. Realitas apa yang mewakili setiap kata
itu?. Begitu banyak ragam rumah, ada rumah bertingkat, rumah mewah, rumah
sederhana, rumah hewan, rumah tembok, rumah bilik, dan yang lainnya. Begitu
juga kursi, ada kursi jok, kursi kerja, kursi plastik, kursi malas, dan
sebagainya. Kata mobil-pun ternyata tidak sederhana, ada sedan, truk, minibus,
ada mobil pribadi, mobil angkutan dan sebagainya.
Bila kita menyertakan budaya sebagai variable dalam proses
komunikasi tersebut, maka masalahnya akan semakin rumit. Ketika kita
berkomunikasi dengan seseorang dari budaya kita sendiri, proses komunikasi akan
jauh lebih mudah, karena dalam suatu budaya orang-orang berbagi sejumlah
pengalaman serupa. Namun bila komunikasi melibatkan orang-orang berbeda budaya,
banyak pengalaman berbeda dan akhirnya proses komunikasi juga menyulitkan.
Agar
komunikasi kita berhasil, bahasa harus memenuhi tiga fungsi yaitu: untuk
mengenal dunia disekitar kita; berhubungan dengan orang lain; dan untuk
menciptakan koherensi dalam hidup kita. Melalui fungsi pertama kita dapat
mempelajari apa saja yang menarik minat kita, mulai dari sejarah yang hidup
pada masa lalu seperti Mesir Kuno. Kita juga dapat berbagi pengalaman masa lalu
dan masa kini yang kita alami, dan juga pengetahuan yang kita dapatkan dari
berbagai media. Fungsi bahasa kedua adalah sebagai sarana untuk berhubungan
dengan orang lain[2].
Fungsi ini berkaitan dengan fungsi komunikasi khususnya fungsi sosial dan
fungsi instrumental. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk
kesenangan kita dan untuk mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan. Melaui
bahasa kita dapat mengandalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang disekitar
kita. Kemampuan orang lain dengan orang lain tidak hanya tergantung pada bahasa
yang sama, namun juga pengalaman yang sama dan makna yang sam dalam kata-kata
yang kita sampaikan. Sedangkan fungsi ketiga memungkinkan kita untuk hidup
lebih teratur, saling memahami diantara kita, baik kepercayaan maupun
tujuan-tujuan kita. Kita tidak mungkin menjelaskan semua itu dengan menyusun
kata-kata secara acak melainkan berdasarkan aturan-aturan tertentu yang telah
kita sepakati bersama. Akan tetapi kita sebenarnya tidak selamanya dapat
memenuhi ketiga fungsi tersebut, karena meskipun bahasa merupakan sarana
komunikasi dengan manusia lain, sarana ini secara inheren mengandung kendala
karena keterbatasan sifatnya. Seperti dikatakan S.I Hayakawa;” kata itu bukan
objek”. Bila orang-orang memaknai suatu kata secara berbeda, maka akan timbul
kesalahpahaman diantara mereka. menyalurkan dan turut membentuk pikiran.
Kemempuan menyampaikan pesan verbal antar budaya.
Menurut
Ohoiwutun dalam Liliweri dalam berkomunikasi antar budaya ada beberapa hal yang
harus diperhatikan yaitu;1) kapan orang berbicara; 2)apa yang dikatakan; 3)hal
memperhatikan; 4) intonasi; 5) gaya kaku dan puitis serta 6)bahasa tidak
langsung. Ke enam hal tersebut adalah saat yang tepat bagi seseorang
untuk menyampaikan pesan verbal dalam komunikasi antar budaya.
1. Kapan orang
berbicara
Jika kita berkomunikasi antar budaya
perlu diperhatikan ada kebiasaan budaya yang mengajarkan kepatutan kapan
seorang harus atau boleh berbicara. Orang Timor, Batak, Sulawesi, Ambon, Irian,
mewarisi sikap kapan saja bisa berbicara, tanpa membedakan tua dan muda,
artinya berbicara semaunya saja, berbicara tidak mengenal batas usia. Namun
orang Jawa dan Sunda mengenbal aturan atau kebiasaan kapan orang berbicara,
misalnya yang lebih muda mendengarkan lebih banyak daripada yang tua, yang tua
lebih bayak berbicara dari yang muda[3].
2. apa yang dikatakan
selalu
terkait dengan pengalaman dan perasaan pribadi .Masing-masing anggota kelompok
kurang tertarik pada isi ceritera yang di-kemukakan anggota kelompok lainnya .
3. hal memperhatikan
Konsep ini berkaitan erat dengan gaze atau
pandangan mata yang diperkenankan waktu berbicara bersama-sama .Orang-orang
kulit hitam biasanya berbicara sambil menatap mata dan wajah orang lain, hal
yang sama terjadi bagi orang Batak dan Timor. Sebaliknya oran Jawa tidak
mementingkan ‘melihat’ tetapi mendengarkan. Sebaliknya orang Timor merasa
dilecehkan karena si Jawa tidak melihat dia waktu memberikan pengarahan.
4. Intonasi
tinggi rendahnya suatu nada pada kalimat yang memberikan penekanan
dalam kata-kata tertentu di suatu kalimat
5. gaya kaku dan puitis
Jika
anda membandingkan bahasa Indonesia yang diguratkan pada awal berdirinya Negara
ini dengan gaya yang dipakai dewasa ini, dekade 90-an maka anda akan dapati
bahwa bahasa Indonesia tahun 1950-an lebih kaku. Gaya bahasa sekarang lebih
dinamis lebih banyak kata dan frase dengan makna ganda, tergantung dari konteksnya.
Perbedaan ini terjadi sebagai akibat perkembangan bahasa. Tahun 1950-an bahasa
Indonesia hanya dipengaruhi secara dominan oleh bahasa Melayu.
6. Bahasa tidak langsung
Setiap bahasa mengajarkan kepada
para penuturnya mekanisme untuk menyatakan sesuatu secara langsung atau tidak
langsung. Jika anda berhadapan dengan orang Jepang, maka anda akan menemukan
bahwa mereka sering berbahasa secara tidak langsung, baik verbal maupun non
verbal[4].
B. Komunikasi
Non-Verbal lintas budaya
Dalam proses non
verbal yang relevan dengan komunikasi antar budya terdapat tiga aspek yaitu;
perilaku non verbal yang berfungsi sebagai bahasa diam, konsep waktu dan
penggunaan dan pengaturan ruang.
Pentingnya
perilaku non verbal ini misalnya dilukiskan dalam frase, ”bukan apa yang ia
katakan tapi bagaimana ia mengatakannya”. Lewat perilaku non verbalnya, kita
dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau
sedih. Secara sederhana,
pesan non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata.
Menurut Larry A.
Samovar dan Richard E. Porter , komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan
kecuali rangsangan verbal dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh
individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan
potensial bagi pengirim atau penerima; jadi definisi ini mencakup perilaku yang
disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara
keseluruhan; kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpamenyadari bahwa
pesan-pesan tersebut bermakna pada orang lain[5].
Sebagai suatau
komponen budaya, ekspresi non verbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa.
Keduanya merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai
bagian pengalaman budaya. Lambang-lambang non verbal dan respon-respon yang
ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya –
apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang
memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut. Kita
dapat mengklasifikasikan pesan-pesan nonverbal ini dengan berbagai cara.Jurgen
Ruesch mengklasifikasikan isyarat nonverbal menjadi tiga bagian.Pertama,bahasa
tanda (sign language)-acungan jempol untuk numpang mobil secara gratis;bahasa
isyarat tuna rungu ;kedua,bahasa tindakan (action language)-semua gerakan tubuh
yang tidak digunakan secara eksklusif untuk memberikan sinyal, misalnya,berjalan;dan ketiga,bahasa
objek (object language)-pertunjukan benda,pakaian,dan lambang nonverbal bersifat
publik lainnya seperti ukuran ruangan,bendera, gambar(lukisan),musik
(misalnya marching band),dan sebagainya,baik secara sengaja ataupun tidak.[6]
C. Dakwah Dalam
Komunikasi Verbal Dan Non Verbal
Dalam agama maupun budaya merupakan
keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Orang yang mengajak agar melestarikan
lingkungannya, mencintai dan menyayangi sesama
manusia, saling menghargai
dan menghormati, kompetisi
sehat dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya
ternyata bukan hanya
monopoli khotbah Sang
Pastor di gereja-gereja, nasehat-nasehat mubaligh
di podium, para
politisi dalam kampanye
pemilu atau sikap
biksu dan pendeta bijak
pada keyakinan dan
ajaran-ajaran agama yang
berbeda. Sikap saling membela dalam mempertahankan budaya dan
tradisi suatu masyarakat tidak
hanya monopoli kaum primitif yang
hidup di hutan
nan jauh dari
keramaian kota seperti
suku-suku di Papua dan
Kalimantan, tetapi hampir
setiap masyarakat menyatu
dengan budayanya berhak
untuk melestarikannya.
Pengakuan terhadap
keragaman beragama misalnya,
tidak bisa dilaksanakan
apabila dalam diri seseorang masih ada perasaan curiga dan prasangka
buta yang saling menyalahkan bahkan
mencaci agama dan
kepercayaan yang ada di luar
dirinya. Meskipun setiap
agama mempunyai landasan doktriner untuk menyebarkan ajarannya,
penyebaran tersebut tetap harus dilakukan dalam suasana saling menghormati
kepercayaan agama orang lain. Kasus perkasus tragedi kemanusiaan
atas nama agama
sudah banyak kita
saksikan sebagai bukti
bahwa keragaman perbedaan adalah
keniscayaan yang harus
diakui keberadaannya. Bahkan
suatu proyek pembangunan yang
dilaksanakan pemerintah sering
berakhir dengan benturan
antar aparat dan warga hanya karena proyek pembangunan tersebut
menyinggung dan mengganggu kebiasaan dan adat-istiadat dalam kelangsungan hidup
masyarakat setempat[7].Begitu juga
dengan dakwah, tidak
akan jauh mengalami
nasib yang sama
apabila pelaksanaan dakwah tersebut
tidak memperhatikan dan
mengindahkan nilai-nilai budaya termasuk tradisi beragama yang dianut masyarakat. Dakwah tersebut akan ditolak dan segera ditinggalkan umat.
Padahal, selain untuk
diri sendiri, dakwah
dilakukan untuk membimbing umat. Aktivitas
dakwah pada era
sekarang dituntut melakukan
upaya-upaya dan pendekatan-pendekatan dakwah
yang lebih bisa
mengayomi dan mempertimbangkan budaya-budaya masyarakat tertentu yang
berpijak pada nilai-nilai universal kemanusiaan. Dakwah merupakan suatu proses,
maka layaknya suatu proses mesti dilakukan dengan cara-cara dan strategi yang
lebih terencana, konseptual
dan terus-menerus
(continue)seraya terus meningkatkan pendekatan-pendekatan yang
lebih ramah tanpa mengubah maksud dan tujuan dakwah[8].
[1] Dedy mulyana, ilmu
kominikasi suatu pengantar, (Bandung Remaja Rosdakarya), 2003
[2] Menurut Mulyana( 2007)
[3] https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/27052/1/DARWIS%20FITRA%20MAKMUR-FDK.pdf
[4] S. Djuarsa Sendjaja, Teori komunikasi,
(Jakarta, Universitas Terbuka, 2005)
[6] http://blog.ub.ac.id/juuaaannnn/2014/11/20/perilaku-verbal-dan-non-verbal-pada-komunikasi-lintas-budaya/
[7] Nurcholish
Majid, Islam, Doktrin dan Peradaban,(Jakarta: Paramadina, 1992)
[8] Toto Tasmara, Komunikasi
Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997)
