MINI
BOOK
DAKWAH
MULTIKULTURAL DAN
KOMUNIKASI
LINTAS BUDAYA
Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural
Pengampu :
Abu Amar Bustomi, M.Si
Disusun Oleh:
Muhammad Syaiful Faiz (B01219037)
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2021
Kata pengantar
Alhamdulillah, puji syukur
penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq
dan hidayahNya, sehingga saya dapat menyelesaikan SMALL BOOK yang berjudul “Dakwah Multikultural Dan
Komunikasi Lintas Budaya”.
Keberhasilan
dalam penyusunan Small book ini, dan tidak lepas dari dorongan dan semangat
dari berbagai pihak. Suatu kebanggaan tersendiri, jika suatu tugas dapat
terselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Penulis
buku ini tidak lepas dengan kekurangan dalam penulisan, untuk itu penulis
senantiasa menerima kritik dan saran dari teman-teman guna kelengkapan dan
kempurnaan buku ini kedepan nya.
Surabaya, 25 Juni 2021
PEMBAHASAN
A. Dakwah
Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya
a Pengertian Dakwah multikultural
Dari segi bahasa (etimologi),
Dakwah dapat dikatakan, Undang-undang, telepon, dorong atau mohon. Dalam
pemerintahan Dakwah bahasa Arab adalah bentuk mashdar dari kata kerja da'a,
yad'u, da'watan, artinya memanggil atau mengundang, Kata dakwah dalam Alquran
diekspresikan dalam bentuk fi'il dan mashdar Sebanyak lebih dari seratus kata.
Alquran menggunakan kata dakwah untuk kebaikan yang di sertai dengan Risiko
pilihan. Dalam Alquran Dakwah diundang 46 kali, Dakwah ditemukan 39 kali
Berikan Islam dan kebaikan dan undang 7 kali ke neraka atau kejahatan. Selain
Ada banyak kitab suci yang bisa menjelaskan kata "dakwah" dalam hal
ini berbeda.
Multikultural berasal dari dua
kata; multi (banyak/beragam) dan cultural (budaya/kebudayaan),
yang 19 secara etimologi berarti keberagaman budaya. Budaya yang
mesti dipahami adalah bukan budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami
sebagai semua dialektika manusia terhadap kehidupannya
Terkait dengan hal tersebut
Al-Qur’an sudah jelas menyatakan dalam surat Al-Hujurat ayat 13 :
اَيُّهَا النَّاسُ
اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا
وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal”
Sedangkan secara istilah, para ahli
memiliki tafsiran yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang mereka di dalam
memberikan pengertian dakwah. Berikut ini dikutip beberapa pendapat, di
antaranya:
a) Dakwah merupakan suatu proses usaha
untuk mengajak agar orang beriman kepada Allah, percaya dan menaati apa yang
telah diberitakan oleh Rasul serta mengajak agar dalam menyembah Allah
seakan-akan melihat-Nya. (ibnu taimiyah) [1]
b) Dakwah adalah usaha-usaha
menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat manusia
konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, dan
yang meliputi al-amar bima’ruf an-nahyu an al-munkar dengan berbagai macam cara
dan media yang diperbolehkan akhlak dan membimbing pengalamannya dalam
perikehidupan bermasyarakat dan perikehidupan bernegara. ( Muhammad
Natsir)
b. Ruang Lingkup Dakwah Multikultural
a) Pertama, periksa dasar interaksi
Da'í simbolis mad'u berbeda dengan latar belakang budaya Dalam lingkup misi,
misionaris, nabi dan rasul Termasuk nabi terakhir dan bukti eksistensi Islam di
Indonesia Merupakan produk kegiatan dakwah multikultural
b) Kedua, menelaah unsur-unsur dakwah
dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, pesan,
dakwah, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu yang mewadahi
keberlangsungan interaksi antarberbagai unsur dalam keberlangsungan dakwah.
c) Ketiga,
mengkaji tentang karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun
yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi
d) Keempat,
mengkaji tentang upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnik dan
antaretnik, baik lokal-nasional, regional maupun internasional.
B. Basis Dan Pendekatan Dakwah Multikultural
Basis
teologi islam multikultural etnik dan kutur, Islam sebagai agama, kebudayaan
dan peradaban besar di dunia sudahsejak awal masuk ke Nusantara pada abad ke-7
dan terus berkembang hing-ga kini. Ia telah memberi sumbangsih bagi
keanekaragaman kebudayaanlokal Nusantara. Islam tidak hanya hadir dalam bentuk
tradisi agung bahkanmemperkaya pluralitas dengan Islamisasi kebudayaan dan
pribumisasi Islamyang pada gilirannya melahirkan tradisi-tradisi kecil Islam[2].
a. Menyulam Ragam Mengrajut Harmoni
HarmoniSebagai
risalah profetik, Islam pada intinya adalah seruan pada semuaumat manusia,
termasuk mereka para pengikut agama-agama, menuju satucita-cita bersama
kesatuan kemanusiaan (unity of humankind) tanpa mem-bedakan ras, warna kulit,
etnik, kebudayaan dan agama. Karena manusiatak ubahnya waktu, keduanya maju tak
tertahankan. Sama sepertihalnya takada jam tertentu yang mendapat kedudukan
khusus, begitu pula tak ada satupun orang, kelompok, atau bangsa manapun yang
dapat membanggakan dirisebagai diistimewakan Tuhan (the chosen people)[3].
Pesan
kesatuan ini disinyalir secara tegas dalam al-Qur’an: “Katakan-lah: Wahai semua
penganut agama (dan kebudayaan)! Bergegaslah menuju dialog dan perjumpaan
multikultural (kalimatun sawa’) antara kami dankamu’’
b. Mengenyam Solidariitas Menuntut
Pengorbanan
Muslim
multikultural memandang Islam sebagai agama egalitariansekaligus terbuka atas
solidaritas dan ketergantungan sosial. Islam meng-akui secara gamblang hak
semua manusia untuk hidup secara layak danjaminan kesehatan, pakaian, makanan,
perumahan serta usaha-usaha sosialyang diperlukan.Tatanan sosial yang saling
terkait mendukung dan merajut individu-individu dan kelompok-kelompok yang
beragam menjadi tenunan kohesisosial yang kokoh, dan bukan mengurai mereka
menjadi helai-helai benangtatanan yang carut marut. Tatanan ini melihat
kerjasama sebagai hal pentingbagi kesehatan masyarakat yang pada gilirannya
memberi kesejahteraanbagi individu.
Pendekatan Dakwah
Multikultural
Dari penggalan ayat Q.S, al –
Hujurat ayat 13
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا
وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ
إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ
”Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal”
Secara global, ayat ini ditujukan kepada umat manusia seluruhnya, tak hanya
kaum muslim. Sebagai manusia, ia diturunkan dari sepasang suami-istri. Suku, ras dan
bangsa mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan saja, sehingga dengan itu
kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Dihadapan Allah mereka
semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda
suku, ras,dan bangsanya supaya saling mengenal.Melalui perkenalan
itu mereka saling belajar, saling memahami, saling mengerti dan saling
memperoleh manfaat, baik moril maupun
materi.Perkenalan ituniscayamenginspirasi semua pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain dan untuk
berlomba-lomba dalam kebaikan.
Memang perselisihan dan perbedaan yang terjadi pada masyarakat
manusia dapat menimbulkan kelemahan serta ketegangan antar mereka, tetapi dalam
kehidupan ini ada perbedaan yang tidak dapat dihindari, yaitu ciri dan tabiat
manusia yang pada gilirannya menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam banyak hal.Belum
lagi perbedaan. lingkungan dan perkembangan ilmu yang juga memperluas
perbedaan mereka. Ini semua merupakan kehendak Allah Swt.dan tentu diperlukan
oleh manusia bukan saja sebagai makhluk sosial, tetapi
juga sebagai hamba Allah yang harus mengabdi kepada-Nya dan
menjadi khalifah di bumi.[6]
Allah
Swt antara lain menggarisbawahi:
أَهُمۡ
يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي
ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ
لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا
يَجۡمَعُونَ
“ Apakah mereka yang
membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan
mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas
sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan
sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan” . (QS. Az-Zukhruf 43: 32)
Kalau
Allah Swt.berhendak menjadikan semua manusia sama, tanpa perbedaan,
maka Dia menciptakan manusia seperti binatang tidak dapat berkreasi
dan melakukan
perkembangan, baik terhadap dirinya apalagi lingkungannya. Tapi itu tidak dihendaki
Allah, karena Dia menugaskan manusia menjadi khalifah. Dengan perbedaan itu,
manusia dapat berlomba-lomba dalam kebajikan, dan dengan demikian akan terjadi kreatifitas
dan peningkatan kualitas. Karena hanya dengan perbedaan dan perlombaan yang
sehat, kedua hal itu akan tercapai. Antara lain untuk itulah manusia
dianugerahi-Nya kebebasan bertindak, memilah dan memilih[4].
C. TUJUAN,
FUNGSI DAN PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
1
Tujuan Komunikasi Antar Budaya
Komunikasi
antarbudaya terjadi bertujuan untuk mengurangi tingkat ketidakpastian. Seperti
halnya ketika ada dua individu yang sedang berkomunikasi, namun kedua individu
tersebut menggunakan bahasa yang berbeda-beda karena kebudayaan yang berbeda.
Sehingga, komunikasi
antarbudaya inilah yang akan berperan sebagai alat untuk mengurangi tingkat
keidakpastian logika maupun definisi dari topik yang sedang dibicarakan.
Bahkan, komunikasi antarbudaya pun juga bertujuan sebagai alat efektifitas
komunikasi. Agar informasi yang disampaikan itu dapat dimengerti secara
efektif, maka diperlukan adanya komunikasi antarbudaya ini.
2. Fungsi Komunikasi Antar Budaya
Adapun
beberapa fungsi dari komunikasi antarbudaya di antaranya :
1.
Menyatakan Identitas Sosial: Dengan
adanya komunikasi antarbudaya, individu tersebut dapat menunjukkan identitas
sosialnya sendiri.
2.
Menyatakan Intergasi Sosial:
Komunikasi antarbudaya dapat menyatukan dan mempersatukan antar pribadi dalam
interaksi tersebut. (Baca juga:
3.
Menambah Pengetahuan: Komunikasi
antarbudaya pun dapat memberikan wawasan yang baru, bahkan wawasan yang belum
pernah diketahui oleh individu tersebut.
4.
Hubungan Interaksi: Selain itu,
komunikasi antarbudaya juga dapat menciptakan hubungan yang komplementer
serta hubungan yang selaras.
Di dalam komunikasi antarbudaya pun juga terdapat fungsi sosial,
di antaranya :
a.
Pengawasan: Pada umumnya, kegiatan
komunikasi antarbudaya terjadi ketika komunikator dan komunikan yang berbeda
kebudayaan. Fungsi ini lebih banyak digunakan oleh media masa.
b.
Penghubung: Komunikasi antarbudaya
ini dapat juga dijadikan sebagai jembatan bagi setiap individu yang memiliki
kebudayaan yang berbeda. Biasanya, Beda individu atau lebih akan menyampaikan
presepsi mereka yang berbeda-beda.
c.
Sosialisasi Nilai: Di sini, fungsi
komunikasi antar budaya dapat memberikan ajaran dan perkenalan nilai-nilai dari
suatu kebudayaan suatu masyarakat lain[3].
d.
Menghibur: Dalam hiburan pun juga
ada kegiatan komunikasi antar budaya. Hal ini dapat ditemukan seperti di
saat menonton tarian, nyanyian, bahkan drama sekaligus.
3. Peranan Dalam Dakwah Komunikasi
Antar Budaya
Dalam komunikasi antarbudaya
yang ideal, kita akan mengharapkan banyak persamaan dalam pengalaman dan
persepsi. Tetapi karakter budaya cendrung memperkenalkan kita kepada
pengalaman-pengalaman yang tidak sama, dan oleh karenanya membawa kita kepada
persepsi yang berbeda pada eksternal[5]. Ada tiga unsur
sosio-budaya mempunyai pengaruh yang besar pada persepsi, yaitu sistem
kepercayaan, nilai sikap pandangan dunia dan organisasi social Menghadapi
berbagai macam dalam arti kemajemukan dalam segala hal, komunikasi antar bangsa
semakin terasa betapa pentingnya kita pahami, baik sebagai individu maupun
sebagai anggota masyarakat, diperlukan untuk mengatur tatakrama pergaulan antar
manusia. Sebab Peranan Dakwah & Komunikasi Antarbudaya berkomunikasi
dengan baik sesuai dengan budaya akan memberi pengaruh langsung pada struktur
keseimbangan seseorang dalam bermusyawarah.
D. Dakwah dalam Komunikasi Antar Etnik, Ras
dan Bangsa
a. Ragam bentuk Koamunikasi
Komunikasi
antarbudaya merupakan proses komunikasi diantara dua latar belakang budaya yang
berbeda. Misalnya
antara orang Indonesia dengan orang Malaysia, antara suku sunda dengan
suku jawa, antara ras klokasia dengan ras Mongolia. Dalam komunikasi
anatarbudaya ini rawan konflik karena memiliki pengertian atau makna yang
berbeda mengenai suatu perbuatan, seperti bersendawa, dalam budaya
tertentu bersendawa merupakan suatu bentuk pujian terhadap makanan yang
enak, namun dalam budaya bangsa lain itu adalah sebuah ketidak sopanan.
b. Religius Tolerenc
Toleransi
adalah kemampuan hidup dengan sesuatu (termasuk sikap dan situasi orang lain)
yang tidak Anda sukai. Anda tidak menyukainya karena ini berbeda dengan apa
yang biasa Anda lakukan, tidak sesuai dengan nilai yang Anda pegang atau
tradisi tempat Anda dibesarkan. Terkadang Anda harus hidup dengan hal semacam
itu agar Anda tidak mengalami kesulitan atau agar Anda memahami penyebabnya
yang membuat orang lain melakukan apa yang tidak Anda sukai dan menganggapnya
sebagai sesuatu yang wajar dalam situasinya konflik akan terjadi sewaktu-waktu
sehingga pengembangan diri terhambat. Namun, memberi banyak toleransi tidak
kalah berbahayanya. Ini dapat mengakumulasi ketidakpuasan hingga ke titik tak
tertahankan yang dapat menyebabkan gangguan yang lebih besar. Selain itu,
toleransi sebenarnya merupakan langkah parsial pembuktian dalam hubungannya
dengan hidup bersama. Seseorang tidak bisa mentolerir setiap hari, kecuali
sangat sedikit orang. Seseorang mungkin bertoleransi dalam waktu yang lebih
lama daripada yang lain, tetapi selalu ada batasan yang tidak dapat dilampaui.
c. Perilaku toleransi terhadap
keberagaman suku agama, ras dan antargolongan
Persatuan dan kesatuan di sebuah
negara yang beragam dapat diciptakan salah satunya dengan perilaku masyarakat
yang menghormati keberagaman bangsa dalam mewujudkan perilaku toleransi
terhadap keberagaman tersebut. Sikap toleransi berarti menahan diri bersikap
sabar membiarkan orang berpendapat lain dan berhati lapang terhadap orang-orang
yang memiliki pendapat berbeda. Toleransi sejati didasarkan sikap hormat
terhadap martabat manusia, hati nurani dan keyakinan serta keikhlasan sesama apapun
agamanya suku, golongan, ideologi atau pandangannya[4]
d. Pluralisme dalam suatu etnis
Menurut Richard E. Parter
& Larry A. Samovar mengatakan: bahwa budaya berkenaan dengan cara manusia
hidup. Manusia belajar berpikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang
patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktik
komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik,
dan teknologi, semua itu berdasarkan pola-pola budaya. Ada orang yang berbicara
bahasa Tagalog, memakan ular, menghindari minuman keras terbuat dari anggur,
menguburkan orang-orang yang mati, berbicara melalui telepon, atau meluncurkan
roket ke bulan, ini semua karena mereka telah dilahirkan atau
sekurang-kurangnya dibesarkan dalam suatu budaya yang mengandung unsur-unsur
tersebut[6].
e. Dakwah Antar Etnik dan Ras
Dakwah
antarbudaya dimaksudkan ialah sesuatu yang menjadi pegangan atau acuan
prediktif kebenaran yang menjadi dasar berpikir dan bertindak merealisasikan
bidang dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya dan keragamannya ketika
berinteraksi dengan mad’u dalam rentang ruang dan waktu sesuai
perkembangan masyarakat.
Moh. Ali Aziz mengatakan:
universalitas dakwah sebenarnya memiliki dua dimensi, yaitu universal dalam
arti ia berlaku untuk setiap tempat tanpa mengenal batas-batas etnis, dan
universalitas dalam arti ia berlaku untuk setiap waktu tanpa adanya pembatasan. Hal
ini membawa konsekuensi bahwa ajaran itu bersifat permanen sampai akhir masa
yang akan datang.ix Untuk itu ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW bersifat
elastis, akomodatif, dan fleksibel sehingga dalam hal-hal tertentu ia dapat
mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi kebutuhan manusia. Dan karena
universalitasnya itu ia menjadi penutup bagi ajaran-ajaran nabi terdahulu
f. Moderasi Beragama
Indonesia memiliki beragam ras,
etnik dan agama, Masyarakat menjungjung tinggi nilai–nilai persatuan. Contohnya
seperti moderasi beragama, indonesia dengan acuan geografi dan kemajukan
manusia di bumi pertiwi dengan berbagai perbedaan dengan dilandasi toleransi
menciptakan harmoni yang sepadu, sejalan, seirama dan ber-iringan. Dengan
adanya keragaman indonesia mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara
lain.
E. Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya
1 .Kajian Lintas Budaya
Kajian
lintas budaya modern diawali oleh George Peter Murdock ,yang terkenal dengan
kajian perbandingan system-sistem dan analisis kajian lintas budaya tentang
keteraturan danperbedaan-perbedaan yang terdapat diantara masyarakat yang
berbeda. Dia mempelopori penggunaan pendekatan empiris terhadap antropologi
melalui kompilasi data berbagai kebudayaan mandiri dan pengujian hipotesis
dengan menggunakan uji statistik yang sesuai. Murdok memandang dirinya lebih
sebagai ilmuwan sosial yang tetap menjalin kemitraan dengan para peneliti di
bidang ilmu lainnya daripada antropolog.
kajian
lintas budaya mengambil interaksi sehari-hari manusia dengan latarbelakang
kebudayaan berbeda sebagai bagian dari budaya yang perlu dicermati. Kajian
lintas budaya dilandaskan pada asumsi dasar bahwa kontak, persinggungan atau
pergesekan antar budaya yang memicu proses inkulturasi, akulturasi, asimilasi,
dan sebagainya akan mengubah budaya asli. Melalui analisis bandingan terhadap
berbagai unsur yang terlibat dalam kontak antar individu dengan kebudayaan berbeda
diharapkan dapat menghasilkan: (1) generalisasi induk dan orisinalitas budaya,
seperti tujuan penelitian Tylor dan antropolog lainnya; dan (2) pemahaman
tentang proses evolusi dan difusi budaya, yang menjadi fokus utama kajian
lintas budaya kontemporer.
Budaya-budaya yang berbeda memiliki
sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup
yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi yang sangat dipengaruhi oleh
bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga
sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi dengan orang lain selalu mengandung
potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya, karena akan selalu berada
pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan
itu. Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal,
setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak
nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman itu banyak
ditemui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa ini
dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan
antar etnis.[7]
2. Pola Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi
antarbudaya merujuk pada fenomena komunikasi dimana para partisipan yang
berbeda dalam latar belakang kultural menjalin kontak satu 17 samalain secara
langsung maupun tidak langsung. Ketika komunikasi antarbudaya mempersyaratkan
dan berkaitan dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaan- perbedaan kultural antara
pihak-pihak yang terlibat, maka karakteristik- karakteristik kultural dari para
partisipan bukan merupakan fokus studi dari komunikasi antarbudaya[8], melainkan proses
komunikasi antara individu dengan individu dan kelompok dengan kelompok
Proses komunikasi yang sudah
masuk dalam kategori pola komunikasi yaitu; pola komunikasi komunikasi primer,
pola komunikasi sekunder, pola komunikasi linear, dan pola komunikasi sirkular.
a) Komunikasi
Primer
Pola komunikasi primer merupakan
suatu proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan
menggunakan suatu simbol (symbol) sebagai media atau saluran. Dalam pola ini
terbagi menjadi dua lambang yaitu lambang verbal dan lambang nirverbal.
b) Komunikasi
Sekunder
Pola komunikasi secara sekunder
adalah penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan
alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang pada media
pertama.
c) Komunikasi
Linear
Linear di sini mengandung makna
lurus yang berarti perjalanan dari satu titik ke titik lain secara lurus, yang
berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik
terminal.
d) Komunikasi
Sirkular
Dalam proses sirkular itu
terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan ke
komunikator, sebaga penentu utama keberhasilan komunikasi. Dalam pola
komunikasi yang seperti ini proses komunikasi berjalan terus yaitu adaya umpan
balik antara komunikator dan komunikan.
4 . Sosiologi Dakwah
Sosiologi
yang di pertemukan dengan ilmu dakwah sehingga keilmuan itu disebut sosiologi
dakwah, ada suatu kondisi yang terlupakan saat ini, dimanadakwah menjadi
kegiatan setiap manusia untuk menyeru kepada kebaikan dan menjauhii larangan
sang pencipta, kondisi tersebut mengarahkan manusia pada keteraturan sosial
nantinya menjadi dambaan manusia di kehidupan, maka kajian dakwah tanpa hal
keagamaan seseorang menjadi misi bersama, sebenarnya dikarenakan menyampaikan
hal baik dan terhindar dari hal-halburuk sebuah keniscayaan manusia menjadi
pengingat bagi manusia lainya.
Eksistensi dakwah akan senantiasa
bersentuhan dengan realitas sosio-kultural yang mengitarinya, sesuai
konsekuensi posisi dakwah, dakwah sebagai satu variabel dan problematika
kehidupan sosial sebagai variabel yang lain, maka keberadaan dakwah dalam suatu
komunitas dapat dilihat dari fungsi dan perannya dalam mempengaruhi perubahan sosial
tersebut, sehingga lahir masyarakat baru yang diidealkan (khoiru
ummah). Secara substansial dakwah merupakan pendidikan masyarakat, yang
dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita pendidikan nasional.
Tujuan seperti diamanahkan pendidikan nasional tersebut menempatkan dimenasi
moral keagamaan sebagai bagian penting dalam proses berdakwah.
F. MENGENAL
UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH
Pemakaian
istilah Dakwah lebih sering dipakai dalam khazanah kebudayaan Islam. Dari semua
definisi diatas, dapat disarikan bahwa dakwah adalah bentuk komunikasi dengan
maksud mengajak pada nilai-nilai tertentu yang sifatnya religi (berbau agama).
Karena ia ada dalam domain agama Islam yang kita tahu pemeluknya ada di
kebanyakan belahan negara, ras, dan suku, maka dakwah bisa dilihat dari sudut
pandang komunikasi lintas budaya. Membahas tentang komunikasi, ia merupakan
aktivitas dasar manusia, karena manusia tidak bisa lepas dari komunikasi,
karena dengan berkomunikasi manusia dapat saling berinteraksi atau berhubungan
satu sama lainnya baik dalam kehidupan sehari-hari, dirumah, pasar atau dimana
tempat mereka berinteraksi[9].
Islam
sebagai risalah dibawakan oleh Rasulullah SAW. Ajaran Islam dikembangkan melalui
jalan Dakwah. Dakwah merupakan ajakan, anjuran, bujukan, dan menyeru kapada
agama Allah. Menyeru kepada kebaikan dan melarang kepada yang mungkar. Ajaran
Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad pertama melalui periode,
sembunyi-sembunyi, kemudian secara terang-terangan kepada umat manusia. Pertama
Muhammad berdakwah kepada umat manusia di Mekkah secara diam-diam. Namun
setelah Hijrah ke Ethiopia dan Mekkah baru dakwah disebarkan secara
teranganterangan dan teroganisir. Dakwah sebagai anjuran yang suci dan mulia,
berkembang pesat setelah Nabi Hijrah ke Madinah. Di Madinah lah Rasul menyusun
Strategi untuk berdakwah ke seluruh dunia. Sebagaimana kita ketahui bahwa
Dakwah Nabi Muhammad dan para Rasul yang lain serta dakwah para ulama mulai
sejak dulu mempunyai tantangan dan hambatan yang sangat sulit menurut zamannya.
G.
Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah.
1.
Komunikasi Verbal Lintas budaya
Berkomunikasi dapat dilakukan secara verbal dan non verbal, Komunikasi
verbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata baik
yang dinyatakan secara oral atau lisan maupun tulisan. Sedangkan komunikasi non
verbal adalah penciptaan melalui gerak tubuh, sikap tubuh, vokal yang bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka
dan sentuhan[10].
Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan fikiran, perasaan dan
maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang mempresentatifkan
berbagai aspek realitas individu kita. Dengan kata lain, kata-kata adalah
abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan
totalitas objek atau konsep yang mewakili kata-kata itu. Misalnya kata rumah,
kursi atau mobil. Realitas apa yang mewakili setiap kata itu?. Begitu banyak
ragam rumah, ada rumah bertingkat, rumah mewah, rumah sederhana, rumah hewan,
rumah tembok, rumah bilik, dan yang lainnya. Begitu juga kursi, ada kursi jok,
kursi kerja, kursi plastik, kursi malas, dan sebagainya. Kata mobil-pun
ternyata tidak sederhana, ada sedan, truk, minibus, ada mobil pribadi, mobil
angkutan dan sebagainya.
Menurut Ohoiwutun dalam Liliweri dalam
berkomunikasi antar budaya ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu;1)
kapan orang berbicara; 2)apa yang dikatakan; 3)hal memperhatikan; 4) intonasi;
5) gaya kaku dan puitis serta 6)bahasa tidak langsung. Ke enam hal tersebut
adalah saat yang tepat bagi seseorang untuk menyampaikan pesan verbal dalam
komunikasi antar budaya.
2.
Komunikasi Non-Verbal lintas budaya
Dalam proses
non verbal yang relevan dengan komunikasi antar budya terdapat tiga aspek
yaitu; perilaku non verbal yang berfungsi sebagai bahasa diam, konsep waktu dan
penggunaan dan pengaturan ruang. Pentingnya perilaku non verbal ini misalnya
dilukiskan dalam frase, ”bukan apa yang ia katakan tapi bagaimana ia
mengatakannya”. Lewat perilaku non verbalnya, kita dapat mengetahui suasana
emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau sedih. Secara sederhana,
pesan non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata[11].
3.
Dakwah Dalam Komunikasi Verbal Dan Non Verbal
Dalam agama maupun budaya merupakan keniscayaan yang tidak bisa
dibantah. Orang yang mengajak agar melestarikan lingkungannya, mencintai dan
menyayangi sesama manusia, saling
menghargai dan menghormati, kompetisi
sehat dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya
ternyata bukan hanya
monopoli khotbah Sang
Pastor di gereja-gereja, nasehat-nasehat mubaligh
di podium, para
politisi dalam kampanye
pemilu atau sikap
biksu dan pendeta bijak
pada keyakinan dan
ajaran-ajaran agama yang
berbeda. Sikap saling membela dalam mempertahankan budaya dan
tradisi suatu masyarakat tidak
hanya monopoli kaum primitif yang
hidup di hutan
nan jauh dari
keramaian kota seperti
suku-suku di Papua dan
Kalimantan, tetapi hampir
setiap masyarakat menyatu
dengan budayanya berhak
untuk melestarikannya.
H. Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam
Dakwah Multikultural Moderen.
a.
Hambatan Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya mampu mengurangi stress alkulturasi dan
hambatan saat seseorang bertukar pesan dengan orang yang budayanya berbeda
dengannya, komunikasi lintas budaya melibatkan proses interaksi antar orang
yang beranggapan budaya dan sistem simbol yang dimiliki berbeda saat
berkomunikasi. Manusia diciptakan oleh Allah bukan hanya sebagai makhluk
individu akan tetapi juga sebagai makhluk sosial, oleh karena itu manusia tidak
mungkin dapat hidup dengan seorang diri tanpa adanya orang lain. Hal inilah
yang menyebabkan seseorang perlu berkomunikasi dengan orang lainnya[2]. Dalam
konteks kehidupan yang lebih luas lagi,
bahwa Allah telah menciptakan beragam suku, ras, bahasa dan agama yang
masing-masing memiliki ragam budaya yang berbeda-beda, sehingga manusia perlu
mengetahui budaya satu dengan yang lainnya. Dalam komunikasi antarbudaya maka
diperlukan suatu sikap yang lebih terbuka untuk memahami budaya orang lain dan
dapat menghargainya untuk tujuan pemenuhan kebutuhan masyarakat satu dengan
yang lainnya yang berbeda-beda[12].
Hambatan dari komunikasi antar budaya :
1.
Fisik, hambatan komunikasi yang berasal dari waktu, lingkungan,
kebutuhan diri, dan media.
2.
Budaya, hambatan komunikasi yang berasal dari etnis, agama, dan sosial
yang berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.
3.
Persepsi, hambatan komunikasi yang timbul karena perbedaan persepsi yang
dimiliki oleh individu mengenai sesuatu. Perbedaan persepsi menyebabkan
perbedan dalam mengartikan atau memaknakan sesuatu.
4.
Motivasi, hambatan komunikasi yang berkaitan dengan tingkat motivasi
penerima pesan. Rendahnya tingkat motivasi penerima pesan mengakibatkan
komunikasi menjadi terhambat.
5.
Pengalaman, hambatan komunikasi yang disebabkan oleh pengalaman masa
lalu yang dimiliki individu. Perbedaan pengalaman yang dimiliki oleh
masing-masing individu dapat menyebabkan perbedaan dalam konsep serta persepsi
terhadap sesuatu.
6.
Emosi, hambatan komunikasi yang berkaitan dengan emosi atau perasaan
pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan
komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
7.
Bahasa, hambatan komunikasi yang terjadi ketika pengirim pesan (sender)
dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa atau kata-kata yang tidak
dimengerti oleh penerima pesan sehingga menimbulkan ketidaksamaan makna.
8.
Nonverbal, hambatan komunikasi yang berupa isyarat atau gesture.
9.
Kompetisi, hambatan komunikasi yang timbul ketika penerima pesan sedang
melakukan kegiatan lain di saat menerima pesan.
b. Dakwah Multikultural Modern
Menjalankan aktivitas dakwah pada kalangan masyarakat yang multikultur
memerlukan cara dan strategi tersendiri. Komunikasi yang baik dan tidak
menyudutkan salah satu pihak yang berbeda dapat menjadikan dakwah diterima oleh
masyarakat yang heterogen. Tulisan ini mengkaji tentang cara yang digunakan
dalam melakukan dakwah pada masyarakat yang berbeda-beda. Kesimpulan dari
tulisan ini menjelaskan bahwasannya strategi komunikasi dakwah yang digunakan
dalam masyarakat yang multikultural dengan cara pendekatan multikulturalisme
dalam dakwah, yakni berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam
keragaman, dan toleransi dalam perbedaan.
Masyarakat modern pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih
tinggi dari masyarakat transisi sehingga memiliki pengetahuan yang lebih luas
dan pola pikir yang lebih rasional dari semua tahapan kehidupan masyarakat
sebelumnya, walaupun kadang pendidikan formal saja tidak cukup untuk
mengantarkan masyarakat pada tingkat pengetahuan dan poal pikir semacam itu.
Secara demografis masyarakat modern menempati lingkungan perkotaan yang
cenderung gersang dan jauh dari situasi yang sejuk dan rindang[13]
I. BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH
1)
Budaya Dalam Komunikasi Lintas Budaya
Menurut teori komunikasi antar budaya, Edward T.
Hall, komunikasi dan budaya memiliki hubungan sangat erat. Menurutnya,
communication is culture and culture is communication. Hall terlebih dahulu
membedakan budaya konteks tinggi (high context culture ) dengan budaya konteks
rendah (low context culture). Budaya konteks rendah ditandai dengan komunikasi
konteks rendah seperti pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung lugas
dan berterus terang. Para penganut budaya ini mengatakan bahwa apa yang mereka
maksudkan (the say what they mean) adalah apa yang mereka katakan (they mean
what they say). Sebaliknya, budaya konteks tinggi, seperti kebanyakan pesan yang
bersifat implisit, tidak langsung dan tidak terus terang, pesan yang sebenarnya
mungkin tersembunyi dibalik perilaku nonverbal, intonasi suara, gerakan tangan,
pemahaman lebih kontekstual, lebih ramah dan toleran terhadap budaya
masyarakat. Terkadang pernyataan verbal bisa bertentangan dengan pesan
non-verbal.
Manusia yang terbiasa berbudaya konteks tinggi
lebih terampil membaca perilaku non-verbal dan juga akan mampu melakukan hal
yang sama. Watak komunikasi konteks tinggi yaitu tahan lama, lamban berubah dan
mengikat kelompok penggunanya. Orang-orang berbudaya konteks tinggi lebih
menyadari proses penyaringan budaya daripada orang-orang berbudaya konteks
rendah. Dalam kaitannya dengan aktivitas dakwah, pengkajiannya dengan
pendekatan komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Bagaimana
para da’i melakukan tugasnya sebagai pengayom masyarakat, penyelamat masyarakat
dan memajukan masyarakat dengan pendekatanpendekatan yang lebih dekat dan ramah
dengan budaya yang dianut masyarakat setempat[14].
Kemudian dalam kaitannya dengan ilmu
dakwah adalah pada tujuan dan fungsi dari komunikasi antar budaya itu sendiri.
Tujuan studi dari komunikasi antar budaya menurut Litvin bersifat kognitif dan
afektif[15], yaitu untuk mempelajari
keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi
komunikasinya sendiri. Tentunya dengan terlebih dahulu kita perluas dan
perdalam pemahaman kita terhadap kebudayaan seseorang tersebut.
Sebagai pengembang teoritis dakwah,
komunikasi antar budaya dapat menjelaskan secara sistematis fenomena yang
berkembang berkaitan dengan proses dakwah (fungsi pengawasan), kontrol
(pengendalian) suatu fenomena yang berkaitan dengan proses kegiatan dakwah
dengan harapan agar fenomena itu dapat terjadi sesuai dengan tujuan yang hendak
di capai (fungsi menjembatani), serta mampu memberikan penjelasan berbagai
fenomena di suatu masyarakat. agar pengembangan dan pelaksanaan dapat dilakukan
secara efektif dan efisien (fungsi sosialisasi nilai).
2)
Dakwah dalam Kearifan
Lintas Budaya
Fenomena dan objek dakwah yang sangat
beragam, maka beragam pula tantangan yang dihadapi oleh umat Islam di manapun
dan kapanpun. Melihat beragamnya objek dakwah, maka beragam pula strategi
dakwah yang dilakukan oleh da’i. Demikian juga budaya dari objek dakwah sangat
beragam. Salah satu metode yang digunakan dalam berdakwah adalah dakwah bil
hikmah, dakwah bil hikmah dilakukan dengan cara yang arif dan bijaksana, yaitu
melalui pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu
melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan,
mapun konflik. Inilah yang bisa diterapkan dalam konsep dakwah lintas budaya.
Penekanannya adalah cara melaksanakan dakwah
Rasulullah dan menjadi rujukan dan referensi dakwah bagi kita saat ini.
Melakukan dakwah yang sebenarnya adalah hal yang sangat mudah. Karena kita
dapat melakukan dakwah dimana saja dan kapan saja. Dalam menyampaikan dakwah
kita harus merujuk kepada Al-Quran dan Hadis Nabi. Salah satu metode dakwah
yang sampai saat ini masih relevan dipraktekkan oleh para dai adalah dapat
merujuk kepada Hadis Nabi sebagai berikut: Permudahlah, jangan mempersulit,
sampaikan Kabar gembira dan jangan membuat orang lari (HR. Bukhari).
Mempermudah urusan bukanlah membolehkan segala sesuatu hal dalam kehidupan ini.
Misalnya, apabila seseorang baru masuk Islam, setelah mengucapkan dua kalimah
syahadah. Maunya jangan langsung dengan serta merta kita menyuruh membayar
zakat, dan naik Haji. Akan tetapi ia baru saja masuk Islam maka kita memberikan
kabar-gembira, kabar yang menyenangkan serta menyejukkan tentang Islam.
Misalnya kita memberikan penjelasan bahwa Islam Agama yang menghormati sesama
manusia.
Budaya-budaya yang berbeda memiliki
sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup
yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi yang sangat dipengaruhi oleh
bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga
sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi dengan orang lain selalu mengandung
potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya, karena akan selalu berada
pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu.
Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat
menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang
tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat
dari kesalahpahaman itu banyak ditemui dalam berbagai kejadian yang mengandung
etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada
kerusuhan atau pertentangan antar etnis.
[2] Abdullah, Amin. (2005). Pendidikan Agama Era Multikultural –Multireligius. Jakarta: PSAP Muhammadiyah
[3] Abd. Madjid, Tantangan dan Harapan Umat
Islam di Era Globalisasi (Ban-dung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 79.
[4] Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial
KemanusiaanVol. 8, no. 1 (2017), pp. 160-177
[5]http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1018964&val=15521&title=PERANAN%20DAKWAH%20DAN%20KOMUNIKASI%20ANTARBUDAYA%20DALAM%20MASYARAKAT%20PLURAL
[6] Deddy Mulyana & Jalaluddin Rakhmat
(ed), Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda
Budaya, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005)
[7] Poerwanto, Heri. 2002. “Analisis Komparasi
Lintas Budaya”. Jurnal Humaniora Vol.XIV, No.1 2002.
[8] (Rahardjo, 2005: h. 54).
[10] Dedy mulyana, ilmu kominikasi suatu pengantar, (Bandung Remaja Rosdakarya), 2003
[11] S. Djuarsa Sendjaja, Teori komunikasi, (Jakarta, Universitas Terbuka, 2005)
[12] Liliweri, Alo. (2002). Dasar-Dasar
Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
[13] Abdul Karim AT-TABSYIR: Jurnal
Komunikasi Penyiaran Islam Komunikasi Antarbudaya di Era Modern Vol.
3, No. 2 Desember 2015
[14] Abdullah. 2012. Dakwah Kultural dan
Struktural. Bandung: Citapustaka Media Perintis.
[15] Al Balagh – Vol. 1, No. 1,
Januari – Juni 2016 | 27

Tidak ada komentar:
Posting Komentar