Senin, 28 Juni 2021

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH

 

 

 ARTIKEL

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH


Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural

 

 

Disusun Oleh:

Muhammad Syaiful Faiz (B01219037)

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2021


 

Pendahuluan

Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaannya[1]. Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi sangat bergantung pada budaya: bahasa, aturan, dan norma masing-masing [2]Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri dalam buku “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yaitu merupakan interaksi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memilki latarbelakang kebudayaan yang berbeda [3].

 Metode ilmiah yang dimaksud oleh Ilmu Dakwah, tercantum pula pada Komunikasi antar budaya seperti yang dipaparkan Alo Liliweri pada bukunya “Dasar-dasat komunikasi antar budaya”. Bahwa menurut beliau komunikasi antar budaya memiliki Fungsi sosial, diantaranya :

 1. Sosialisasi Nilai Sosialisasi nilai merupakan fungsi untuk mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.

2. Menjembatani Dalam poses komunikasi antar peibadi, termasuk komunikasi antar budaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan diantara mereka. Fungsi menjembantani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama.

3. Pengawasan Praktik komunikasi antar budaya diantara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antar budaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan perkembangan tentang lingkungan.


Pembahasan

A.    Budaya Dalam Komunikasi Lintas Budaya

Menurut teori komunikasi antar budaya, Edward T. Hall, komunikasi dan budaya memiliki hubungan sangat erat. Menurutnya, communication is culture and culture is communication. Hall terlebih dahulu membedakan budaya konteks tinggi (high context culture ) dengan budaya konteks rendah (low context culture). Budaya konteks rendah ditandai dengan komunikasi konteks rendah seperti pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung lugas dan berterus terang. Para penganut budaya ini mengatakan bahwa apa yang mereka maksudkan (the say what they mean) adalah apa yang mereka katakan (they mean what they say). Sebaliknya, budaya konteks tinggi, seperti kebanyakan pesan yang bersifat implisit, tidak langsung dan tidak terus terang, pesan yang sebenarnya mungkin tersembunyi dibalik perilaku nonverbal, intonasi suara, gerakan tangan, pemahaman lebih kontekstual, lebih ramah dan toleran terhadap budaya masyarakat. Terkadang pernyataan verbal bisa bertentangan dengan pesan non-verbal.

Manusia yang terbiasa berbudaya konteks tinggi lebih terampil membaca perilaku non-verbal dan juga akan mampu melakukan hal yang sama. Watak komunikasi konteks tinggi yaitu tahan lama, lamban berubah dan mengikat kelompok penggunanya. Orang-orang berbudaya konteks tinggi lebih menyadari proses penyaringan budaya daripada orang-orang berbudaya konteks rendah. Dalam kaitannya dengan aktivitas dakwah, pengkajiannya dengan pendekatan komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Bagaimana para da’i melakukan tugasnya sebagai pengayom masyarakat, penyelamat masyarakat dan memajukan masyarakat dengan pendekatanpendekatan yang lebih dekat dan ramah dengan budaya yang dianut masyarakat setempat[4].

 Kemudian dalam kaitannya dengan ilmu dakwah adalah pada tujuan dan fungsi dari komunikasi antar budaya itu sendiri. Tujuan studi dari komunikasi antar budaya menurut Litvin bersifat kognitif dan afektif[5], yaitu untuk mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri. Tentunya dengan terlebih dahulu kita perluas dan perdalam pemahaman kita terhadap kebudayaan seseorang tersebut.

 Sebagai pengembang teoritis dakwah, komunikasi antar budaya dapat menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah (fungsi pengawasan), kontrol (pengendalian) suatu fenomena yang berkaitan dengan proses kegiatan dakwah dengan harapan agar fenomena itu dapat terjadi sesuai dengan tujuan yang hendak di capai (fungsi menjembatani), serta mampu memberikan penjelasan berbagai fenomena di suatu masyarakat. agar pengembangan dan pelaksanaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien (fungsi sosialisasi nilai).

B.     Dakwah dalam Kearifan Lintas Budaya

 Fenomena dan objek dakwah yang sangat beragam, maka beragam pula tantangan yang dihadapi oleh umat Islam di manapun dan kapanpun. Melihat beragamnya objek dakwah, maka beragam pula strategi dakwah yang dilakukan oleh da’i. Demikian juga budaya dari objek dakwah sangat beragam. Salah satu metode yang digunakan dalam berdakwah adalah dakwah bil hikmah, dakwah bil hikmah dilakukan dengan cara yang arif dan bijaksana, yaitu melalui pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan, mapun konflik. Inilah yang bisa diterapkan dalam konsep dakwah lintas budaya.

Penekanannya adalah cara melaksanakan dakwah Rasulullah dan menjadi rujukan dan referensi dakwah bagi kita saat ini. Melakukan dakwah yang sebenarnya adalah hal yang sangat mudah. Karena kita dapat melakukan dakwah dimana saja dan kapan saja. Dalam menyampaikan dakwah kita harus merujuk kepada Al-Quran dan Hadis Nabi. Salah satu metode dakwah yang sampai saat ini masih relevan dipraktekkan oleh para dai adalah dapat merujuk kepada Hadis Nabi sebagai berikut: Permudahlah, jangan mempersulit, sampaikan Kabar gembira dan jangan membuat orang lari (HR. Bukhari). Mempermudah urusan bukanlah membolehkan segala sesuatu hal dalam kehidupan ini. Misalnya, apabila seseorang baru masuk Islam, setelah mengucapkan dua kalimah syahadah. Maunya jangan langsung dengan serta merta kita menyuruh membayar zakat, dan naik Haji. Akan tetapi ia baru saja masuk Islam maka kita memberikan kabar-gembira, kabar yang menyenangkan serta menyejukkan tentang Islam. Misalnya kita memberikan penjelasan bahwa Islam Agama yang menghormati sesama manusia.

Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi dengan orang lain selalu mengandung potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya, karena akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu.

Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman itu banyak ditemui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antar etnis.



[1] (Enjang, 2009. 24-34)

[2] (Liliweri, 2011. 9).

[3] (Liliweri, 2009. 12-13 ).

 

[4] Abdullah. 2012. Dakwah Kultural dan Struktural. Bandung: Citapustaka Media Perintis.

[5] Al Balagh – Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016 | 27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MINI BOOK "Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya

MINI BOOK DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dalam Memenuhi Salah Sa...