ARTIKEL
BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH
Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural
Disusun Oleh:
Muhammad Syaiful Faiz (B01219037)
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN
PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2021
Pendahuluan
Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang
dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaannya[1].
Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan karenanya
ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi sangat bergantung
pada budaya: bahasa, aturan, dan norma masing-masing [2]Komunikasi
dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya
memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi
komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri dalam buku “Makna Budaya
dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang komunikasi antar budaya
yaitu merupakan interaksi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh
beberapa orang yang memilki latarbelakang kebudayaan yang berbeda [3].
Metode ilmiah yang dimaksud
oleh Ilmu Dakwah, tercantum pula pada Komunikasi antar budaya seperti yang
dipaparkan Alo Liliweri pada bukunya “Dasar-dasat komunikasi antar budaya”.
Bahwa menurut beliau komunikasi antar budaya memiliki Fungsi sosial,
diantaranya :
1. Sosialisasi Nilai
Sosialisasi nilai merupakan fungsi untuk mengajarkan dan mengenalkan
nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.
2. Menjembatani Dalam poses komunikasi antar peibadi, termasuk
komunikasi antar budaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang
yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan diantara mereka.
Fungsi menjembantani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka
pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan
sehingga menghasilkan makna yang sama.
3. Pengawasan Praktik komunikasi antar budaya diantara komunikator
dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap
proses komunikasi antar budaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan
perkembangan tentang lingkungan.
Pembahasan
A.
Budaya
Dalam Komunikasi Lintas Budaya
Menurut teori komunikasi antar budaya, Edward T. Hall, komunikasi
dan budaya memiliki hubungan sangat erat. Menurutnya, communication is culture
and culture is communication. Hall terlebih dahulu membedakan budaya konteks
tinggi (high context culture ) dengan budaya konteks rendah (low context
culture). Budaya konteks rendah ditandai dengan komunikasi konteks rendah
seperti pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung lugas dan berterus
terang. Para penganut budaya ini mengatakan bahwa apa yang mereka maksudkan
(the say what they mean) adalah apa yang mereka katakan (they mean what they
say). Sebaliknya, budaya konteks tinggi, seperti kebanyakan pesan yang bersifat
implisit, tidak langsung dan tidak terus terang, pesan yang sebenarnya mungkin
tersembunyi dibalik perilaku nonverbal, intonasi suara, gerakan tangan,
pemahaman lebih kontekstual, lebih ramah dan toleran terhadap budaya
masyarakat. Terkadang pernyataan verbal bisa bertentangan dengan pesan
non-verbal.
Manusia yang terbiasa berbudaya konteks tinggi lebih terampil
membaca perilaku non-verbal dan juga akan mampu melakukan hal yang sama. Watak
komunikasi konteks tinggi yaitu tahan lama, lamban berubah dan mengikat
kelompok penggunanya. Orang-orang berbudaya konteks tinggi lebih menyadari
proses penyaringan budaya daripada orang-orang berbudaya konteks rendah. Dalam
kaitannya dengan aktivitas dakwah, pengkajiannya dengan pendekatan komunikasi
konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Bagaimana para da’i melakukan
tugasnya sebagai pengayom masyarakat, penyelamat masyarakat dan memajukan
masyarakat dengan pendekatanpendekatan yang lebih dekat dan ramah dengan budaya
yang dianut masyarakat setempat[4].
Kemudian dalam kaitannya
dengan ilmu dakwah adalah pada tujuan dan fungsi dari komunikasi antar budaya
itu sendiri. Tujuan studi dari komunikasi antar budaya menurut Litvin bersifat
kognitif dan afektif[5],
yaitu untuk mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu
menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri. Tentunya dengan terlebih dahulu
kita perluas dan perdalam pemahaman kita terhadap kebudayaan seseorang tersebut.
Sebagai pengembang teoritis
dakwah, komunikasi antar budaya dapat menjelaskan secara sistematis fenomena
yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah (fungsi pengawasan), kontrol
(pengendalian) suatu fenomena yang berkaitan dengan proses kegiatan dakwah
dengan harapan agar fenomena itu dapat terjadi sesuai dengan tujuan yang hendak
di capai (fungsi menjembatani), serta mampu memberikan penjelasan berbagai
fenomena di suatu masyarakat. agar pengembangan dan pelaksanaan dapat dilakukan
secara efektif dan efisien (fungsi sosialisasi nilai).
B.
Dakwah
dalam Kearifan Lintas Budaya
Fenomena dan objek dakwah
yang sangat beragam, maka beragam pula tantangan yang dihadapi oleh umat Islam
di manapun dan kapanpun. Melihat beragamnya objek dakwah, maka beragam pula
strategi dakwah yang dilakukan oleh da’i. Demikian juga budaya dari objek
dakwah sangat beragam. Salah satu metode yang digunakan dalam berdakwah adalah
dakwah bil hikmah, dakwah bil hikmah dilakukan dengan cara yang arif dan
bijaksana, yaitu melalui pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah
mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan,
tekanan, mapun konflik. Inilah yang bisa diterapkan dalam konsep dakwah lintas
budaya.
Penekanannya adalah cara melaksanakan dakwah Rasulullah dan menjadi
rujukan dan referensi dakwah bagi kita saat ini. Melakukan dakwah yang
sebenarnya adalah hal yang sangat mudah. Karena kita dapat melakukan dakwah
dimana saja dan kapan saja. Dalam menyampaikan dakwah kita harus merujuk kepada
Al-Quran dan Hadis Nabi. Salah satu metode dakwah yang sampai saat ini masih
relevan dipraktekkan oleh para dai adalah dapat merujuk kepada Hadis Nabi
sebagai berikut: Permudahlah, jangan mempersulit, sampaikan Kabar gembira dan
jangan membuat orang lari (HR. Bukhari). Mempermudah urusan bukanlah
membolehkan segala sesuatu hal dalam kehidupan ini. Misalnya, apabila seseorang
baru masuk Islam, setelah mengucapkan dua kalimah syahadah. Maunya jangan
langsung dengan serta merta kita menyuruh membayar zakat, dan naik Haji. Akan
tetapi ia baru saja masuk Islam maka kita memberikan kabar-gembira, kabar yang
menyenangkan serta menyejukkan tentang Islam. Misalnya kita memberikan
penjelasan bahwa Islam Agama yang menghormati sesama manusia.
Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang
berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga
menentukan cara berkomunikasi yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan
norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap
kegiatan komunikasi dengan orang lain selalu mengandung potensi komunikasi
lintas budaya atau antar budaya, karena akan selalu berada pada “budaya” yang
berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu.
Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang
fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul
perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman
itu banyak ditemui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa
ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan
antar etnis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar