Senin, 14 Juni 2021

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Moderen.

 

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya

Dalam Dakwah Multikultural Moderen.

 


Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural

 

 

Oleh:

Muhammad Syaiful Faiz

B01219037

 

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2021


 

Pendahuluan

Selain berkomunikasi dan berbahasa, syafiq menyatakan hambatan adaptasi sosial akan di alami mahasiswa asing karena kecenderungan berkelompok dengan sesama suku mereka[1]. Penyebabnya adalah pandangan mereka yang hanya tinggal sementara. Dampaknya, mereka tidak berupaya maksimal dalam mengambil pengalaman saat mendapat hambatanhambatan dengan masyarakat lokal. Akibatnya mereka lebih memilih berteman dengan sesama suku mereka untuk mengurangi kecemasan. Tidak hanya itu, efek buruknya mereka tidak mampu beradaptasi dan mengembangkan diri bersama masyarakat yang beraneka budaya.

Akibat negatif pada sulit beradaptasi untuk lingkungan yang baru salah ialah stres akulturasi, yaitu beberapa rangkaian pengalaman yang tidak enak dan menganggu (Syafiq dkk dalam Tsytsarev & Krichmar, & Shiraev & Levy, 2012). Furnham & Bochner (1986) berpendapat hal ini di sebut dengan culture shock (gegar budaya) yang di rasakan dengan adanya rasa kehilangan, tidak tahu harus berbuat apa, dan rasa cemas yang berlebihan yang membuat seseorang menarik diri dari lingkungannya.

Komunikasi tidak dapat terlepas dari manusia karena merupakan suatu yang esensial. Beragamnya komunikasi yang di lakukan manusia, yaitu komunikasi verbal dan non-verbal yang di ciptakan dan di sepakati bersama antar pelaku komunikasi didalam sebuah kelompok. Akibat kesepakatan didalam kelompok ini memicu prasangka dan perilaku yang berbeda dalam berkomunikasimencakup komunikasi lintas budaya yang berbeda


 

Pembahasan

A. Hambatan Komunikasi Lintas Budaya

            Komunikasi lintas budaya mampu mengurangi stress alkulturasi dan hambatan saat seseorang bertukar pesan dengan orang yang budayanya berbeda dengannya, komunikasi lintas budaya melibatkan proses interaksi antar orang yang beranggapan budaya dan sistem simbol yang dimiliki berbeda saat berkomunikasi.

            Manusia diciptakan oleh Allah bukan hanya sebagai makhluk individu akan tetapi juga sebagai makhluk sosial, oleh karena itu manusia tidak mungkin dapat hidup dengan seorang diri tanpa adanya orang lain. Hal inilah yang menyebabkan seseorang perlu berkomunikasi dengan orang lainnya[2]. Dalam konteks  kehidupan yang lebih luas lagi, bahwa Allah telah menciptakan beragam suku, ras, bahasa dan agama yang masing-masing memiliki ragam budaya yang berbeda-beda, sehingga manusia perlu mengetahui budaya satu dengan yang lainnya. Dalam komunikasi antarbudaya maka diperlukan suatu sikap yang lebih terbuka untuk memahami budaya orang lain dan dapat menghargainya untuk tujuan pemenuhan kebutuhan masyarakat satu dengan yang lainnya yang berbeda-beda[3].

Antara komunikasi dan budaya sangat memiliki keterkaitan yang erat, di mana salah satu fungsi yang penting dalam komunikasi adalah transmisi budaya, ia tidak dapat terelakkan dan akan selalu hadir dalam berbagai bentuk komunikasi yang mempunyai dampak pada penerimaan individu. Demikian juga beberapa bentuk komunikasi menjadi bagian dari pengalaman dan pengetahuan individu. Melalui individu ini kemudian komunikasi menjadi bagian dari pengalaman kolektif kelompok, publik, audience barbagai jenis dan individu bagian dari suatu massa. Hal ini merupakan pengalaman kolektif yang direfleksikan kembali melalui bentuk komunikasi, tidak hanya melalui media massa, tetapi juga dalam seni, ilmu pengetahuan, dan masyarakat. Warisan kemudian adalah dampak akumulasi budaya dan masyarakat sebelumnya yang telah menjadi bagian dari hak asasi manusia. Hal itu ditransmisikan oleh individu, orang tua, kawan sebaya, kelompok primer atau sekunder, dan proses pendidikan. Budaya komunikasi tersebut secara rutin dimodifikasi oleh pengalaman baru yang didapat

 

Hambatan dari komunikasi antar budaya :

1.     Fisik, hambatan komunikasi yang berasal dari waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan media.

2.     Budaya, hambatan komunikasi yang berasal dari etnis, agama, dan sosial yang berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.

3.     Persepsi, hambatan komunikasi yang timbul karena perbedaan persepsi yang dimiliki oleh individu mengenai sesuatu. Perbedaan persepsi menyebabkan perbedan dalam mengartikan atau memaknakan sesuatu.

4.     Motivasi, hambatan komunikasi yang berkaitan dengan tingkat motivasi penerima pesan. Rendahnya tingkat motivasi penerima pesan mengakibatkan komunikasi menjadi terhambat.

5.     Pengalaman, hambatan komunikasi yang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang dimiliki individu. Perbedaan pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing individu dapat menyebabkan perbedaan dalam konsep serta persepsi terhadap sesuatu.

6.     Emosi, hambatan komunikasi yang berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.

7.     Bahasa, hambatan komunikasi yang terjadi ketika pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa atau kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan sehingga menimbulkan ketidaksamaan makna.

8.     Nonverbal, hambatan komunikasi yang berupa isyarat atau gesture.

9.     Kompetisi, hambatan komunikasi yang timbul ketika penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain di saat menerima pesan.

B. Dakwah Multikultural Modern

            Menjalankan aktivitas dakwah pada kalangan masyarakat yang multikultur memerlukan cara dan strategi tersendiri. Komunikasi yang baik dan tidak menyudutkan salah satu pihak yang berbeda dapat menjadikan dakwah diterima oleh masyarakat yang heterogen. Tulisan ini mengkaji tentang cara yang digunakan dalam melakukan dakwah pada masyarakat yang berbeda-beda. Kesimpulan dari tulisan ini menjelaskan bahwasannya strategi komunikasi dakwah yang digunakan dalam masyarakat yang multikultural dengan cara pendekatan multikulturalisme dalam dakwah, yakni berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan.

            Berbicara masalah posisi dakwah dalam kehidupan modern merupakan suatu hal yang cukup penting, karena persoalan hidup dan kehidupan manusia semakin kompleks. Untuk memahami persoalan yang dimaksud perlu upaya dan konsep guna menempatkan dakwah supaya dapat diterima oleh seluruh umat. Agar mampu menghadirkan Islam sebagai manhaj atau aturan, yang dapat memecahkan problematika kehidupan manusia. Adapun dalam era modern ini manusia mengalami krisis nilai-nilai insani[4],

            Masyarakat modern pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari masyarakat transisi sehingga memiliki pengetahuan yang lebih luas dan pola pikir yang lebih rasional dari semua tahapan kehidupan masyarakat sebelumnya, walaupun kadang pendidikan formal saja tidak cukup untuk mengantarkan masyarakat pada tingkat pengetahuan dan poal pikir semacam itu. Secara demografis masyarakat modern menempati lingkungan perkotaan yang cenderung gersang dan jauh dari situasi yang sejuk dan rindang[5]



[1] Syafiq dkk dalam Maganga (2009: 79-80)

[2] Liliweri, Alo. (2002). Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

[3] Lagu, M. (2006). Komunikasi Antarbudaya Di Kalangan Mahasiswa Etnik Papua Dan Etnik Manado Di Universitas Sam Ratulangi Manado. e-journal “Acta Diurna”. Volume V, No.3.

[4] a ( M. Jakfar Puteh, 2006:131)

[5] Abdul Karim  AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Komunikasi Antarbudaya di Era Modern Vol. 3, No. 2 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MINI BOOK "Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya

MINI BOOK DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dalam Memenuhi Salah Sa...