Hambatan Komunikasi Lintas Budaya
Dalam Dakwah Multikultural Moderen.
Diajukan Kepada
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Dalam Memenuhi
Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural
Oleh:
Muhammad Syaiful Faiz
B01219037
PROGRAM
STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2021
Pendahuluan
Selain berkomunikasi dan berbahasa, syafiq menyatakan
hambatan adaptasi sosial akan di alami mahasiswa asing karena kecenderungan
berkelompok dengan sesama suku mereka[1]. Penyebabnya adalah pandangan mereka yang hanya tinggal sementara.
Dampaknya, mereka tidak berupaya maksimal dalam mengambil pengalaman saat
mendapat hambatanhambatan dengan masyarakat lokal. Akibatnya mereka lebih
memilih berteman dengan sesama suku mereka untuk mengurangi kecemasan. Tidak
hanya itu, efek buruknya mereka tidak mampu beradaptasi dan mengembangkan diri
bersama masyarakat yang beraneka budaya.
Akibat negatif pada sulit beradaptasi untuk
lingkungan yang baru salah ialah stres akulturasi, yaitu beberapa rangkaian
pengalaman yang tidak enak dan menganggu (Syafiq dkk dalam Tsytsarev &
Krichmar, & Shiraev & Levy, 2012). Furnham & Bochner (1986) berpendapat
hal ini di sebut dengan culture shock (gegar budaya) yang di rasakan dengan
adanya rasa kehilangan, tidak tahu harus berbuat apa, dan rasa cemas yang
berlebihan yang membuat seseorang menarik diri dari lingkungannya.
Komunikasi tidak dapat terlepas dari
manusia karena merupakan suatu yang esensial. Beragamnya komunikasi yang di
lakukan manusia, yaitu komunikasi verbal dan non-verbal yang di ciptakan dan di
sepakati bersama antar pelaku komunikasi didalam sebuah kelompok. Akibat
kesepakatan didalam kelompok ini memicu prasangka dan perilaku yang berbeda
dalam berkomunikasimencakup komunikasi lintas budaya yang berbeda
Pembahasan
A. Hambatan Komunikasi
Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya mampu mengurangi stress alkulturasi dan
hambatan saat seseorang bertukar pesan dengan orang yang budayanya berbeda
dengannya, komunikasi lintas budaya melibatkan proses interaksi antar orang
yang beranggapan budaya dan sistem simbol yang dimiliki berbeda saat
berkomunikasi.
Manusia diciptakan oleh Allah bukan hanya sebagai makhluk individu
akan tetapi juga sebagai makhluk sosial, oleh karena itu manusia tidak mungkin
dapat hidup dengan seorang diri tanpa adanya orang lain. Hal inilah yang
menyebabkan seseorang perlu berkomunikasi dengan orang lainnya[2].
Dalam konteks kehidupan yang lebih luas lagi, bahwa Allah
telah menciptakan beragam suku, ras, bahasa dan agama yang masing-masing
memiliki ragam budaya yang berbeda-beda, sehingga manusia perlu mengetahui
budaya satu dengan yang lainnya. Dalam komunikasi antarbudaya maka diperlukan
suatu sikap yang lebih terbuka untuk memahami budaya orang lain dan dapat
menghargainya untuk tujuan pemenuhan kebutuhan masyarakat satu dengan yang
lainnya yang berbeda-beda[3].
Antara komunikasi dan budaya sangat memiliki
keterkaitan yang erat, di mana salah satu fungsi yang penting dalam komunikasi
adalah transmisi budaya, ia tidak dapat terelakkan dan akan selalu hadir dalam
berbagai bentuk komunikasi yang mempunyai dampak pada penerimaan individu. Demikian juga beberapa bentuk komunikasi menjadi bagian dari
pengalaman dan pengetahuan individu. Melalui individu ini kemudian komunikasi
menjadi bagian dari pengalaman kolektif kelompok, publik, audience barbagai
jenis dan individu bagian dari suatu massa. Hal ini merupakan pengalaman
kolektif yang direfleksikan kembali melalui bentuk komunikasi, tidak hanya melalui
media massa, tetapi juga dalam seni, ilmu pengetahuan, dan masyarakat. Warisan
kemudian adalah dampak akumulasi budaya dan masyarakat sebelumnya yang telah
menjadi bagian dari hak asasi manusia. Hal itu ditransmisikan oleh individu,
orang tua, kawan sebaya, kelompok primer atau sekunder, dan proses pendidikan.
Budaya komunikasi tersebut secara rutin dimodifikasi oleh pengalaman baru yang
didapat
Hambatan dari komunikasi antar budaya :
1.
Fisik, hambatan komunikasi yang berasal dari waktu,
lingkungan, kebutuhan diri, dan media.
2.
Budaya, hambatan komunikasi yang berasal dari etnis,
agama, dan sosial yang berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang
lainnya.
3.
Persepsi, hambatan komunikasi yang timbul karena
perbedaan persepsi yang dimiliki oleh individu mengenai sesuatu. Perbedaan
persepsi menyebabkan perbedan dalam mengartikan atau memaknakan sesuatu.
4.
Motivasi, hambatan komunikasi yang berkaitan dengan
tingkat motivasi penerima pesan. Rendahnya tingkat motivasi penerima pesan
mengakibatkan komunikasi menjadi terhambat.
5.
Pengalaman, hambatan komunikasi yang disebabkan oleh
pengalaman masa lalu yang dimiliki individu. Perbedaan pengalaman yang dimiliki
oleh masing-masing individu dapat menyebabkan perbedaan dalam konsep serta
persepsi terhadap sesuatu.
6.
Emosi, hambatan komunikasi yang berkaitan dengan emosi
atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka
hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
7.
Bahasa, hambatan komunikasi yang terjadi ketika pengirim
pesan (sender) dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa atau kata-kata
yang tidak dimengerti oleh penerima pesan sehingga menimbulkan ketidaksamaan
makna.
8.
Nonverbal, hambatan komunikasi yang berupa isyarat atau
gesture.
9.
Kompetisi, hambatan komunikasi yang timbul ketika
penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain di saat menerima pesan.
B. Dakwah Multikultural Modern
Menjalankan
aktivitas dakwah pada kalangan masyarakat yang multikultur memerlukan cara dan
strategi tersendiri. Komunikasi yang baik dan tidak menyudutkan salah satu
pihak yang berbeda dapat menjadikan dakwah diterima oleh masyarakat yang
heterogen. Tulisan ini mengkaji tentang cara yang digunakan dalam melakukan
dakwah pada masyarakat yang berbeda-beda. Kesimpulan dari tulisan ini
menjelaskan bahwasannya strategi komunikasi dakwah yang digunakan dalam
masyarakat yang multikultural dengan cara pendekatan multikulturalisme dalam dakwah,
yakni berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan
toleransi dalam perbedaan.
Berbicara masalah posisi dakwah dalam kehidupan modern merupakan
suatu hal yang cukup penting, karena persoalan hidup dan kehidupan manusia
semakin kompleks. Untuk memahami persoalan yang dimaksud perlu upaya dan konsep
guna menempatkan dakwah supaya dapat diterima oleh seluruh umat. Agar mampu
menghadirkan Islam sebagai manhaj atau aturan, yang dapat memecahkan
problematika kehidupan manusia. Adapun dalam era modern ini manusia mengalami
krisis nilai-nilai insani[4],
Masyarakat
modern pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari
masyarakat transisi sehingga memiliki pengetahuan yang lebih luas dan pola
pikir yang lebih rasional dari semua tahapan kehidupan masyarakat sebelumnya,
walaupun kadang pendidikan formal saja tidak cukup untuk mengantarkan
masyarakat pada tingkat pengetahuan dan poal pikir semacam itu. Secara demografis masyarakat modern menempati lingkungan perkotaan
yang cenderung gersang dan jauh dari situasi yang sejuk dan rindang[5]
[1] Syafiq dkk dalam Maganga (2009: 79-80)
[2] Liliweri, Alo. (2002). Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
[3] Lagu, M. (2006). Komunikasi Antarbudaya Di Kalangan Mahasiswa Etnik
Papua Dan Etnik Manado Di Universitas Sam Ratulangi Manado. e-journal “Acta
Diurna”. Volume V, No.3.
[4] a ( M. Jakfar Puteh, 2006:131)
[5] Abdul Karim AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Komunikasi
Antarbudaya di Era Modern Vol. 3, No. 2 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar