Senin, 29 Maret 2021

BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL

 

 

 

PROPOSAL ARTIKEL

 

BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL

 

Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural

 

 

Oleh:

Muhammad Syaiful Faiz

B01219037

 

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2021

         

 

 

A. Pendahuluan

          Dakwah Multikultural adalah aktifitas menyeru kepada jalan Allah melalui usaha-usaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat sebagai kunci utama untuk memberikan pemahaman dan mengembangkan dakwah.10 Secara teori, solusi problematika dakwah pada masyarakat yang rentan konflik dapat ditempuh melalui pendekatan antarbudaya, yaitu proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antara da’i dan mad’u, dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antarbudaya agar peran budaya agar peran dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpeliharanya situasi damai.

            Berbicara multikultural dari sisi agama pastinya sudah sangat jelasbahwa tradisi agama telah mendarah daging dalam sejarah kehidupan umatmanusia. Eropa dan Amerika dengan tradisi Kristen, Timur Tengah dengantradisi Islam, Cina dengan tradisi Konfusianisme, Thailand dengan tradisiBudhisme, India dengan tradisi Hinduisme, dan masih banyak lagi tradisikeagamaan lain yang tidak cukup untuk disebutkan satu persatu di sini.Dalam setiap tradisi besar (High tradition), harus dilihat pula tradisi kecil(Low Tradition) yang menyertainya.

            Permasalahan pokok yang dihadapi para penggerak dakwah sosialkeagamaan pada era multikultural adalah bagaimana agar masing-masingtradisi keagamaan tetap dapat mengawetkan, memelihara, melanggengkan,mengalihgenerasikan, serta mewariskan kepercayaan dan tradisi yangdiyakini sebagai suatu kebenaran yang mutlak, namun pada saat yang samajuga menyadari sepenuhnya keberadaan kelompok tradisi keagamaan lainyang juga berbuat serupa

 

 

PEMBAHASAN

A.  Basis Dakwah Multikultural

            Basis teologi islam multikultural etnik dan kutur, Islam sebagai agama, kebudayaan dan peradaban besar di dunia sudahsejak awal masuk ke Nusantara pada abad ke-7 dan terus berkembang hing-ga kini. Ia telah memberi sumbangsih bagi keanekaragaman kebudayaanlokal Nusantara. Islam tidak hanya hadir dalam bentuk tradisi agung bahkanmemperkaya pluralitas dengan Islamisasi kebudayaan dan pribumisasi Islamyang pada gilirannya melahirkan tradisi-tradisi kecil Islam[1].

            Islam multikultural adalah sebentuk perspektif teologis tentang peng-hargaan terhadap keragaman “sang lain” (the other); suatu assessmentteologis mengenai agama lain, kultur lain dan etnik lain, dan penempatan-nya secara layak dalam tatanan wilayah publik etis; sebuah teologi qur’aniyang membolehkan “sang lain” menjadi “yang lain” sebagai realitas yangsecara etis diperkenankan atau bahkan keniscayaan. Ini merupakan sensi-bilitas ekumene (ecumenical sensibility) dari teologi multikultural yangmenggambarkan perhatian dan kepedulian terhadap penduduk dunia,mempengaruhi kehidupan mereka melampaui batas-batas komunitas-komunitas keagamaan dan kultural[2].

a. Menyulam Ragam Mengrajut Harmoni

            HarmoniSebagai risalah profetik, Islam pada intinya adalah seruan pada semuaumat manusia, termasuk mereka para pengikut agama-agama, menuju satucita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of humankind) tanpa mem-bedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan dan agama. Karena manusiatak ubahnya waktu, keduanya maju tak tertahankan. Sama sepertihalnya takada jam tertentu yang mendapat kedudukan khusus, begitu pula tak ada satupun orang, kelompok, atau bangsa manapun yang dapat membanggakan dirisebagai diistimewakan Tuhan (the chosen people)[3].

            Pesan kesatuan ini disinyalir secara tegas dalam al-Qur’an[4]: “Katakan-lah: Wahai semua penganut agama (dan kebudayaan)! Bergegaslah menuju dialog dan perjumpaan multikultural (kalimatun sawa’) antara kami dankamu’’

b. Mengenyam Solidariitas Menuntut Pengorbanan

            Muslim multikultural memandang Islam sebagai agama egalitariansekaligus terbuka atas solidaritas dan ketergantungan sosial. Islam meng-akui secara gamblang hak semua manusia untuk hidup secara layak danjaminan kesehatan, pakaian, makanan, perumahan serta usaha-usaha sosialyang diperlukan.Tatanan sosial yang saling terkait mendukung dan merajut individu-individu dan kelompok-kelompok yang beragam menjadi tenunan kohesisosial yang kokoh, dan bukan mengurai mereka menjadi helai-helai benangtatanan yang carut marut. Tatanan ini melihat kerjasama sebagai hal pentingbagi kesehatan masyarakat yang pada gilirannya memberi kesejahteraanbagi individu.

            B. Pendekatan Dakwah Multikultural

 Dari penggalan ayat Q.S, al – Hujurat ayat 13

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Secara  global,  ayat  ini  ditujukan  kepada  umat  manusia  seluruhnya,  tak  hanya kaum  muslim.  Sebagai  manusia,  ia  diturunkan  dari  sepasang  suami-istri.  Suku,  ras  dan bangsa  mereka  merupakan  nama-nama  untuk  memudahkan  saja,  sehingga  dengan  itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Dihadapan Allah mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Allah Swt menciptakan  manusia  berbeda-beda suku, ras,dan bangsanya  supaya saling mengenal.Melalui perkenalan itu mereka saling belajar, saling memahami, saling mengerti dan saling memperoleh  manfaat,  baik  moril  maupun materi[5]. Perkenalan  itu niscaya menginspirasi  semua  pihak  untuk  menjadi  lebih  baik  dari  yang  lain  dan  untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Memang perselisihan dan perbedaan yang terjadi pada masyarakat manusia dapat menimbulkan kelemahan serta ketegangan antar mereka, tetapi dalam kehidupan ini ada perbedaan yang tidak dapat dihindari, yaitu ciri dan tabiat manusia yang pada gilirannya menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam banyak hal.Belum lagi perbedaan. lingkungan dan perkembangan ilmu yang juga memperluas perbedaan mereka. Ini semua merupakan kehendak Allah Swt.dan tentu diperlukan oleh manusia bukan saja sebagai makhluk  sosial,  tetapi juga  sebagai  hamba  Allah  yang  harus  mengabdi  kepada-Nya  dan menjadi khalifah di bumi.[6]

            Allah Swt antara lain menggarisbawahi:

أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 

 Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Az-Zukhruf 43: 32)

              Kalau Allah Swt.berhendak menjadikan semua manusia sama, tanpa perbedaan, maka  Dia menciptakan manusia seperti binatang tidak dapat berkreasi dan melakukan perkembangan,  baik  terhadap  dirinya  apalagi  lingkungannya.  Tapi  itu  tidak  dihendaki Allah, karena Dia menugaskan manusia menjadi khalifah. Dengan perbedaan itu, manusia dapat  berlomba-lomba  dalam  kebajikan,  dan  dengan  demikian  akan  terjadi  kreatifitas dan peningkatan kualitas. Karena hanya dengan perbedaan dan perlombaan yang sehat, kedua hal itu akan tercapai. Antara lain untuk itulah manusia dianugerahi-Nya kebebasan bertindak, memilah dan memilih[7].

 

 

 

           

           



[1] Abdullah, Amin. (2005). Pendidikan  Agama  Era  Multikultural  –Multireligius. Jakarta: PSAP Muhammadiyah

[3] Abd. Madjid, Tantangan dan Harapan Umat Islam di Era Globalisasi (Ban-dung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 79.

[4] QS. al-Hujurat 49: 13

[5] Abdurraham Wahid, dkk, Islam Nusantara (Bandung: Mizan, 2015), p. 85.

[7] Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial KemanusiaanVol. 8, no. 1 (2017), pp. 160-177

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MINI BOOK "Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya

MINI BOOK DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dalam Memenuhi Salah Sa...