PROPOSAL ARTIKEL
BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL
Diajukan Kepada
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Dalam Memenuhi
Salah Satu Tugas Dakwah Multikultural
Oleh:
Muhammad Syaiful Faiz
B01219037
PROGRAM
STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2021
A. Pendahuluan
Dakwah Multikultural adalah aktifitas menyeru
kepada jalan Allah melalui usaha-usaha mengetahui karakter budaya suatu
masyarakat sebagai kunci utama untuk memberikan pemahaman dan mengembangkan
dakwah.10 Secara teori, solusi problematika dakwah pada masyarakat yang rentan
konflik dapat ditempuh melalui pendekatan antarbudaya, yaitu proses dakwah yang
mempertimbangkan keragaman budaya antara da’i dan mad’u, dan keragaman penyebab
terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antarbudaya agar peran budaya agar
peran dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpeliharanya situasi damai.
Berbicara
multikultural dari sisi agama pastinya sudah sangat jelasbahwa tradisi agama
telah mendarah daging dalam sejarah kehidupan umatmanusia. Eropa dan Amerika
dengan tradisi Kristen, Timur Tengah dengantradisi Islam, Cina dengan tradisi
Konfusianisme, Thailand dengan tradisiBudhisme, India dengan tradisi Hinduisme,
dan masih banyak lagi tradisikeagamaan lain yang tidak cukup untuk disebutkan
satu persatu di sini.Dalam setiap tradisi besar (High tradition), harus dilihat
pula tradisi kecil(Low Tradition) yang menyertainya.
Permasalahan pokok yang dihadapi
para penggerak dakwah sosialkeagamaan pada era multikultural adalah bagaimana
agar masing-masingtradisi keagamaan tetap dapat mengawetkan, memelihara,
melanggengkan,mengalihgenerasikan, serta mewariskan kepercayaan dan tradisi
yangdiyakini sebagai suatu kebenaran yang mutlak, namun pada saat yang samajuga
menyadari sepenuhnya keberadaan kelompok tradisi keagamaan lainyang juga berbuat
serupa
PEMBAHASAN
A. Basis
Dakwah Multikultural
Basis
teologi islam multikultural etnik dan kutur, Islam sebagai agama, kebudayaan
dan peradaban besar di dunia sudahsejak awal masuk ke Nusantara pada abad ke-7
dan terus berkembang hing-ga kini. Ia telah memberi sumbangsih bagi
keanekaragaman kebudayaanlokal Nusantara. Islam tidak hanya hadir dalam bentuk
tradisi agung bahkanmemperkaya pluralitas dengan Islamisasi kebudayaan dan
pribumisasi Islamyang pada gilirannya melahirkan tradisi-tradisi kecil Islam[1].
Islam
multikultural adalah sebentuk perspektif teologis tentang peng-hargaan terhadap
keragaman “sang lain” (the other); suatu assessmentteologis mengenai agama lain,
kultur lain dan etnik lain, dan penempatan-nya secara layak dalam tatanan
wilayah publik etis; sebuah teologi qur’aniyang membolehkan “sang lain” menjadi
“yang lain” sebagai realitas yangsecara etis diperkenankan atau bahkan
keniscayaan. Ini merupakan sensi-bilitas ekumene (ecumenical sensibility) dari
teologi multikultural yangmenggambarkan perhatian dan kepedulian terhadap
penduduk dunia,mempengaruhi kehidupan mereka melampaui batas-batas
komunitas-komunitas keagamaan dan kultural[2].
a. Menyulam Ragam Mengrajut Harmoni
HarmoniSebagai
risalah profetik, Islam pada intinya adalah seruan pada semuaumat manusia,
termasuk mereka para pengikut agama-agama, menuju satucita-cita bersama
kesatuan kemanusiaan (unity of humankind) tanpa mem-bedakan ras, warna kulit,
etnik, kebudayaan dan agama. Karena manusiatak ubahnya waktu, keduanya maju tak
tertahankan. Sama sepertihalnya takada jam tertentu yang mendapat kedudukan
khusus, begitu pula tak ada satupun orang, kelompok, atau bangsa manapun yang
dapat membanggakan dirisebagai diistimewakan Tuhan (the chosen people)[3].
Pesan
kesatuan ini disinyalir secara tegas dalam al-Qur’an[4]:
“Katakan-lah: Wahai semua penganut agama (dan kebudayaan)! Bergegaslah menuju dialog
dan perjumpaan multikultural (kalimatun sawa’) antara kami dankamu’’
b. Mengenyam Solidariitas Menuntut Pengorbanan
Muslim
multikultural memandang Islam sebagai agama egalitariansekaligus terbuka atas
solidaritas dan ketergantungan sosial. Islam meng-akui secara gamblang hak
semua manusia untuk hidup secara layak danjaminan kesehatan, pakaian, makanan,
perumahan serta usaha-usaha sosialyang diperlukan.Tatanan sosial yang saling
terkait mendukung dan merajut individu-individu dan kelompok-kelompok yang
beragam menjadi tenunan kohesisosial yang kokoh, dan bukan mengurai mereka
menjadi helai-helai benangtatanan yang carut marut. Tatanan ini melihat
kerjasama sebagai hal pentingbagi kesehatan masyarakat yang pada gilirannya
memberi kesejahteraanbagi individu.
B.
Pendekatan Dakwah Multikultural
Dari
penggalan ayat Q.S, al – Hujurat ayat 13
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا
وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ
إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ
”Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”
Secara global, ayat
ini ditujukan kepada
umat manusia seluruhnya,
tak hanya kaum muslim.
Sebagai manusia, ia
diturunkan dari sepasang
suami-istri. Suku, ras
dan bangsa mereka merupakan
nama-nama untuk memudahkan
saja, sehingga dengan
itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Dihadapan Allah
mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Allah Swt menciptakan manusia
berbeda-beda suku, ras,dan bangsanya
supaya saling mengenal.Melalui perkenalan itu mereka saling belajar,
saling memahami, saling mengerti dan saling memperoleh manfaat, baik
moril maupun materi[5].
Perkenalan itu niscaya menginspirasi semua
pihak untuk menjadi
lebih baik dari
yang lain dan
untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Memang perselisihan dan
perbedaan yang terjadi pada masyarakat manusia dapat menimbulkan kelemahan
serta ketegangan antar mereka, tetapi dalam kehidupan ini ada perbedaan yang
tidak dapat dihindari, yaitu ciri dan tabiat manusia yang pada gilirannya
menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam banyak hal.Belum lagi perbedaan. lingkungan
dan perkembangan ilmu yang juga memperluas perbedaan mereka. Ini semua
merupakan kehendak Allah Swt.dan tentu diperlukan oleh manusia bukan saja
sebagai makhluk sosial, tetapi juga
sebagai hamba Allah
yang harus mengabdi
kepada-Nya dan menjadi khalifah di
bumi.[6]
Allah Swt antara lain menggarisbawahi:
أَهُمۡ
يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي
ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ
لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا
يَجۡمَعُونَ
“ Apakah mereka yang membagi-bagi
rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam
kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian
yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian
yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” . (QS.
Az-Zukhruf 43: 32)
Kalau Allah Swt.berhendak menjadikan semua manusia sama, tanpa
perbedaan, maka Dia menciptakan manusia seperti
binatang tidak dapat berkreasi dan melakukan perkembangan, baik
terhadap dirinya apalagi
lingkungannya. Tapi itu
tidak dihendaki Allah, karena Dia
menugaskan manusia menjadi khalifah. Dengan perbedaan itu, manusia dapat berlomba-lomba dalam
kebajikan, dan dengan
demikian akan terjadi
kreatifitas dan peningkatan kualitas. Karena hanya dengan perbedaan dan
perlombaan yang sehat, kedua hal itu akan tercapai. Antara lain untuk itulah
manusia dianugerahi-Nya kebebasan bertindak, memilah dan memilih[7].
[1] Abdullah, Amin. (2005). Pendidikan
Agama Era Multikultural
–Multireligius. Jakarta: PSAP Muhammadiyah
[3] Abd. Madjid, Tantangan dan Harapan Umat Islam di Era Globalisasi
(Ban-dung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 79.
[4] QS. al-Hujurat 49: 13
[5] Abdurraham Wahid, dkk, Islam Nusantara (Bandung: Mizan, 2015), p. 85.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar